SAUDARA KU DI MANA PUN BERADA, SEIRING DATANGNYA 1 RAMADHAN 1433 H, MARILAH KITA SALING MEMBERSIHKAN DIRI, KEPADA ALLAH SWT KITA BERTAUBAT SESAMA MANUSIA KITA SALING BERMAAF-MAAFAN. MARI KITA PERBAIKI HUBUNGAN SILATURAHIM SESAMA UMAT, TERUTAMA PADA ORANG TUA, SUAMI ISTRI, SESAMA SAUDARA SEDARAH SERTA DENGAN KAUM KERABAT, JIRAN TETANGGA. SEMOGA DENGAN CARA DEMIKIAN, KITA BISA MENJALANI IBADAH PUASA DENGAN TENANG DAN MENDAPATKAN PAHALA YANG SETIMPAL DI SISI aLLAH SWT. UNTUK ITU, SAYA ATAS NAMA PRIBADI DAN KELUARGA MENGUCAPKAN SELAMAT MENJALANI IBADAH PUASA, MOHON MAAF ZAHIR DAN BATIN. SAUDARA KU, SESUNGGUHNYA BERHAJI MERUPAKAN SALAH SATU RUKUN ISLAM, YANG UNTUK MENJALANKANNYA KITA HARUS MEMILIKI TRESHOLD (NILAI AMBANG BATAS), KELAYAKAN, BAIK JASMANI, ROHANI MAUPUN MATERI. MAKANYA KALAU SUDAH SIAP, SEGERAKANLAH!!

Rabu, 03 September 2008

Legenda dari Negeri yang Terkoyak (2)

. Rabu, 03 September 2008
0 komentar

Jalan Malam Hari Tak Ada Lagi yang Ganggu
Laporan Yasril, Banda Aceh
Yasril123@yahoo.co.id

Cerita tentang Aceh, negeri bergolak selama ini selalu menjadi momok bagi masyarakat luar yang ingin berkunjung ke sana. Takut, kalau-kalau mendapat gangguan bahkan juga ancaman jiwa. Namun tidak sekarang. Semua telah pulih. Setidaknya perperangan, pergolakan sudah tiada menyusul datangnya gempa berkuatan besar beserta hempasan gelombang tsunami akhir 2004 lalu.


LEGENDA negeri bergolak itu kini tinggal legenda dan menjadi catatan sejarah bagi anak cucu kita ke depan. Kini Aceh sudah jauh berbeda disbanding ketika pertama kali saya mengunjung negeri ini sebelum datangnya hempasan tsunami. Pertikaian, pembakaran bunyi letusan pelur tidak lagi terdengar. Semua berganti dengan keakraban, kesetiakawanan, saling berangkulan satu sama lainnya dalam membangun masa depan yang cemelang.

Masing-masing penududuk dibantu berbagai lembaga social masyarakat (LSM) baik local maupun internasional berupaya bangkit dari keterpurukan di berbagai bidang. Baik di sector perekonomian, pertanian, perdagangan pendidikan maupun ilmu pengetahuan dan teknologi. Semua berupaya menjadikan Aceh, yang telah memberikan modal bagi RI pada era perang kemerdekaan, sebagai mode pembangunan negeri di ndonesia di masa depan.

Hal ini cukup beralasan, selain Aceh menerapkan system pemerintahan otonomi khusus, negeri ini juga mendapat serapan ebudayaan, iptek dari berbagai Negara di dunia. Semua itu pun dikarenakan dampak gempa besar dan tsunami yang tiada duanya di dunia. Sehingga memanggil kepedulian bangsa-bangsa di dunia untuk memulihkan Aceh.

Kini perekonomian rakyat sudah mulai membaik. Tingkat kemikinan pun sudah berkurang jauh. Bahkan menurut Wali Kota Banda Aceh, Mawardi Nurdin, tingkat kemiskinan masyarakat Aceh hanya sekitar 2 persen saja. ‘’Ini jauh berubah disbanding sebelum tsunami dan tahun-tahun pertama tsunami,’’ katanya.

Penurunan tingkat kemiskinan ini paparnya ditandai dengan mulai hidupnya sector informal, tumbuhnya ekonomi mikro serta adanya jaminan kemanan. ‘’Sebab, factor kemanan sangat berpengaruh besar. Aman negeri ini aman pulalah rakyat untuk berusaha dan itu jadi dambaan semua orang termasuk rakyat Banda aceh,’’ tegas Mawardi Nurdin.

Statemen Wali Kota Banda Aceh ini ternyata bukan kecap belaka. Meski diselimuti rasa was-was, namun ketika saya menoba mencari makanan pada malam hari sekitar pukul 00.00 WIB di Banda Aceh, saya merasakan apa yang diungkapkan Wali Kota di hadapan sejumlah wartawan nasional.

Bahkan, dari penglihatan kami, Kota Banda Aceh sudah mulai merangkak jadi kota 24 jam. Hal ini ditandai dengan masih adanya para pedagang kaki lima, asongan dan yang berjualan hingga larut malam, erutama di seputar Masjid Baiturrahman.

Hal ini pun diakui Amir, seorang supir bus antar kota antar provinsi di Aceh. Menurutnya, meski perekonomian masyarakat belum bagus betul namun jauh lebih baik dibanding sebelum terjadi gempa tsunami tahun 2004 lalu. ‘’Kini sudah amanlah. Dulu jangan diharap bias bepergian sore hingga malam hari, bisa-bisa tak pulang lagi, ditangkap atau ditembak. Kini mau jalan hingga larut malam pun aman-aman saja. Buktikan saja,’’ katanya.***

Klik disini untuk melanjutkan »»

Selasa, 02 September 2008

Legenda dari Negeri yang Terkoyak (1)

. Selasa, 02 September 2008
0 komentar

Ayat-ayat Allah yang Tersirat Itu Masih Terbaca
Laporan Yasril, Banda Aceh
Yasril123@yahoo.co.id

GEMPA beserta tsunami yang meluluhlantakkan Provinsi Nanggoe Aceh Darussalam (NAD dan Pulau Nias hingga kini masih menyisakan banyak cerita. Bahkan juga cerita untuk anak cucu kita nanti. Negeri ini telah dan akan menjadi legenda sepanjang zaman tentang kekuasaan Allah SWT yang berkuasa terhadap ciptaannya.


Subbahannallah. Meski telah banyak berita tentang kedasyatan gempa dan tsunami di bumi Aceh yang kita dengar, baik dari mulut ke mulut maupun melalui media cetak dan elektronika, namun tidak semenarik, bila kita menyaksikan langsung kondisi di lapangan. Banyak ayat-ayat Allah yang tersirat dan tersurat yang dapat dijadikan ikhtibar atau pelajaran bagi umat manusia untuk selalu mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Saya merasa cukup beruntung dapat menyaksikan sisa-sisa peninggalan tsunami menjelang datangnya Bulan Suci Ramadhan 1429 H ini, tepatnya tanggal 27 hingga 29 Syakban 1429 H.

Sungguh luar biasa, pantai barat Sumatera yang bila dilihat dalam peta dan atlas merupakan daratan utuh, ternyata setelah tsunami bagaikan baju yang compang-camping. Koyak dan berlubang bahkan digenangi air di sana sini.

Betapa tidak, hanya dalam hitungan sekitar 10 menit musibah maha dasyat telah meluluh-lantakkan sekitar 800 kilometer pesisir Aceh, beserta isinya, baik mahluk hidup, rumah penduduk, bangunan pemerintah, pendidikan dan sebagainya. Begitu juga halnya yang terjadi di Kepulauan Nias yang juga merenggut harta, nyawa dan infrastruktur yang ada di sana.

Bahkan berdasarkan data terakhir dari Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias menyebutkan bahwa sedikitnya 132.000 jiwa melayang akibat hantaman gempa dan tsunami itu. 37.000 orang menghilang dan 500.000 orang bersatus sebagai pengungsi.

Kejadian itu sungguh luar biasa dan di luar jangkauan akal pikiran manusia. Namun tidak bagi Allah. Ia pun menyampaikan ayat-ayat-Nya, kabar berita tentang hancurnya suatu negeri melalui kejadian alam dan orang-orang yang masih selamat dari hantaman tsunami itu.

Dari mulut-mulut perempuan, anak-anak dan kaum muda yang ditinggalkan keluarganya itulah mengalir ayat-ayat tentang kehancuran suatu kaum atau negeri, kata-kata tentang kerusakan infrastruktur, tentang anak ditinggal bapak dan ibu tentang rumah yang hancur, tentang masjid atau rumah Allah yang selamat, tentang kapal yang naik ke atap rumah tentang tangker yang tehempas di pemukiman warga dan masih banyak ayat-ayat allah yang tersirat lainnya.

Salah satu bukti sejarah alam yang dapat dilihat sebagai tanda kekuatan gempa dan gelombang tsunami di Aceh itu adalah kapal tongkang berbobot mati 2.500 ton dengan luas 1.600 meter persegi yang terdampar di perkampungan penduduk di Gampong Punge Blang Cut, Banda Aceh.

Kapal yang juga menginjak dua bangunan rumah penduduk beserta isinya itu, semula berada di darmaga Ulee Lheue sekitar 4 kilometer dari lokasi terampar saat ini. Kapal yang berungsi sebagai pembangkit listrik tenaga diesel itu kini masih bias difungsikan. Namun untuk mengoperasionalkannya jelas akan membawa dampak besar. Setidaknya getaran mesinnya mampu memecahkan kaca bangunan di radius 100 meter dan itu pernah terjadi.

Bukti sejarah lain yang juga menjadi ayat-ayat Allah yang tersirat mengetuk kalbu setiap insan yang melihatnya adalah pemakaman massal. Meski ada beberapa pemakan massal di Banda Aceh, namun yang kami kunjungi adalah pemakaman massal yang berada beberapa ratus meter dari bibir pantai Ulee Lheue.

Bagi pendatang baru pasti tidak menyangka kalau lapangan rumput yang dibelah dengan jalan di bekas bangunan Puskesmas Meuraxa itu didiami sedikitnya 14.000 jenazah korban tsunami. Tidak ada tanda-tanda bahwa lapangan rumput itu adalah kuburan tidak ditemukan adanya nisan yang bersusun-susun seperti layaknya kuburan atau taman makam pahlawan. Kecuali hanya ada sekitar 25 batu-batu gunung atau batu besar, plang nama, larangan menginjak lokasi serta tanaman.

Seorang perempuan ketika itu terlihat masih membacakan Surah Yasin di pinggir kuburan. Ia tidak tahu di mana posisi keluarganya dikuburkan. Namun yang pasti doa dan amalan yang ia bacakan teruntuk bagi keluarganya yang jadi suhada.

Bukti lain dari kekuasaan Allah yang diperlihatkan kepada manusia kala itu adalah selamatnya sejumlah masjid dari hempasan gelombang tsunami, meski bangunan yang berada di sekitarnya hancur dan mayat bergelimpangan. Salah satunya adalah Masjid raya Baiturrahman yang sudah ada sejak masa Sultan ‘Alaad-Din mahmud Syah (1267-1309).

Meski pernah terbakar dan diguncang gempa berkali-kali pada masa itu, bangunan rumah Allah ini tetap kokoh. Bahkan saat Gempa dan tsunami yang menggoncang dan menggenangi Aceh pada 2004 lalu, bangunan ini tetap tegak berdiri. Bahkan bagaikan cerita kapal nabi Nuh, bagi mereka yang mampu masuk ke masjid teritama di bagian atas, maka selamatlah ia dari bencana dan itu memng dilihatkan allah di masjid Baiturrahman tersebut.

Dan masih banyak lagi tempat yang perlu dikunjungi dan dapat dijadikan ihktibar atau pembelajaran bagi manusia-manusia yang masih hidup agar ia meningkatkan ketakwaannya kepada sang pencipta. Amin...***

Klik disini untuk melanjutkan »»

Senin, 01 September 2008

Sisi Lain Pembangunan Politeknik Aceh (2)

. Senin, 01 September 2008
1 komentar

Bangunan Tahan Gempa itu, Dikerjakan Putra Riau
Laporan Yasril, Banda Aceh
Yasril123@yahoo.co.id

Politeknik Aceh yang dibangun PT Chevron Pasifik Indonesia (CPI) berstandar internasional itu memiliki kekuatan konstruksi yang maksimal. Selain mampu bertahan terhadap guncangan gempa berkuatan 8 Skala Richter (SR), bangunan ini juga dirancang untuk tempat berkumpulnya rakyat Aceh jika terjadi musibah besar seketika.


Wali Kota Banda Aceh Mawardi Ibrahim mengaku salut dengan kepedulian PT Chevron terhadap dunia pendidikan di Aceh pasca tsunami. ‘’Ini suatu prestise dan prestasi besar yang dilakukan Chevron di Aceh, pasca tsunami. Sebab, pendidikan merupakan kunci dari segala kemajuan bangsa dan daerah, termasuk Aceh kedepan dan ini dilakukan oleh Chevron,’’ kata Mawardi menjelang serah terima Politeknik Aceh, Jumat (29/8).

Pelaksanaan pembangunan ini paparnya dilakukan oleh PT Sumaraja Indah, salah satu perusahaan nasional yang diakui secara internasional dan telah memiliki sertifikat ISO 9001. Pengerjaan bangunan ini pun diawasi secara ketat agar tidak ada unsur bangunan yang dikurangi dan menyimpang dari bestek. Sehingganya menghasilkan bangunan yang kuat, kokoh sesuai bestek dan mampu bertahan terhadap guncangan gempa berkuatan 8 SR.

‘’Semula bangunan ini dirancang untuk mampu bertahan terhadap gempa 6 SR, tapi setelah menjalani pengkajian secara teknis maka standarnya pun dinaikkan menjadi 8 skala richter’’ kata Mawardi.

Desain bangunan utama politeknik seluas 8.350 meter persegi yang terletak di Desa Pango Raya Kecamatan Ulee Kareng, Banda aceh itu terinspirasi oleh desain Islam, corak tradisional Aceh dan mediterania. Bangunan ini memiliki 65 kamar, 33 ruang kuliah, 22 laboratorium, ruang dosen, kafe, amphitheatre dan pustaka. Bahkan setiap lantai gedung ini pun dapat diakses oleh pengguna kursi roda. ‘’Ini tujuannya untuk memberikan peluang yang sama dalam meraih kesempatan penidikan bagi penyandang cacat,’’ kata Mawardi lagi.

Pertanyaannya, siapa sebenarnya PT Sumaraja Indah itu? Bagi masyarakat dan pemerintahan NAD PT Sumaraja Indah mungkin asing, tapi bukan bagi pengusaha dan pemerintah daerah Riau. Perusahaan yang malang melintang dalam pengerjaan berbagai proyek infrastruktur bertara nasional maupun regional itu ternyata dipimpinan Ir Nicodemus Kasan K, salah seorang warga Riau kelahiran Bengkalis dan dibesarkan di Bukitbatu . Kantornya sendiri berpusat di komplek perkantoran Sudiman Raya, Pekanbaru.

Kepada Riau Pos, Nikodemus mengatakan, pengerjaan politeknik Aceh ini merupakan suatu kepercayaan yang besar yang diberikan pemerintahan Amerika, terutama Chevron kepada perusahaannya. Keberhasilan ini pun katanya bukan dicapai dengan mudah namun setelah menjalani berbagai seleksi bersama perusahaan lainnya di Indonesia.
‘’Kepercayaan ini jelas kami pegang teguh, karena kalau orang tak percaya lagi, tak ada gunanya kita berusaha. Makanya kami berusaha semaksimal mungkin untuk menghailkan karya yang juga berkuatan maksimal. Kami lebih mengutamakan kualitas ketimbang neko-neko,’’ paparnya.

Sebab, paparnya, kalaulah dalam mendapatkan suatu poyek dengan jalan neko-neko, tentu akan berpengaruh terhadap anggaran. Perusahaan mana yang mau merugi. Makanya tidak jarang kita melihat adanya sejumlah poyek, terutama proyek pemerintah daerah yang baru dibangun rusak kembali. Atau sebulan bangun retak-retak.
Menurut Niko, pengerjaan bangunan bertaraf internasional itu, bukan hal yang pertama kali dilakukannya. Saat ini katanya, beberapa pekerjaan juga tengah berlangsung di beberapa daerah lainnya. Bahkan di Riau sendiri pihaknya juga sedang melakukan penamabahan bangunan politenik Caltek Riau (PCR).

Ditanya soal kiprahnya di proye daerah di Riau, Niko mengatakan bukan tidak mau. Namun paparnya harus mempertanggungjawabkan antara prestise dan prestasi. ‘’Kedua factor ini saling keterkait. Dalam pengerjaan proyek, kami kan lebih mengutamakan mutu dan untuk itu kan tidak bisa macam-macam. Bahan bangunan atau material tak bias dimainkan. Karena kalau dikurangi sedikit saja, elas akan berpengaruh pada kualitas. Ini yang kami jaga, termasuk dalam pengerjaan proyek bangunan politeknik Aceh ini,’’ ujar Niko lagi.***

Klik disini untuk melanjutkan »»

Sisi Lain Pembangunan Politeknik Aceh(1)

.
0 komentar

‘’Setelah Membantu, Chevron Jangan Tinggalkan Kami’’
Laporan Yasril, Banda Aceh
Yasril123@yahoo.co.id

MESKI peresmian dan serah terima Politeknik Aceh yang dibangun PT Chevron Pasifik Indonesia (CPI) sudah dilaksanakan 29 Agustus lalu, masyarakat Aceh berharap agar PT Chevron tetap menjalin kemitraan dengan masyarakat dan Pemda Aceh dan meluncuran program-program commudity development-nya di sana.


‘’Saya mewaliki masyarakat Banda Aceh, bahkan juga mungkin Nanggroe Aceh Darussalam secara umum, berharap agar Chevron, setelah menyerahkan bantuan ini tidak meninggalkan kami dalam hal meraba-raba. Kami bergarap agar Chevron bisa selalu membina masyarakat kami, mengangkat dan memulihkan perekonomian pasca tsunami ini dengan program commudity development-nya,’’ kata Wali Kota Banda Aceh, Mawardi Nurdin kepada wartawan di Banda Aceh.

Menurut Mawardi, harapan itu sangat beralasan, sebab, ternyata selama ini sekian banyak perusahaan pertambangan yang beroperasi di Aceh, namun kurang memberi kontribusi terhadap daerah dan masyarakat tempatan di mana ia beroperasi. Sementara Chevron melakukannya baik di Riau maupun di Kalimantan. ‘’Saya sudah melihat daerah-daerah operasional Chevron, baik di Riau maupun di Kalimantan. Bantaun untuk masyarakat tempatan cukup bagus. Baik dari segi infrastruktur maupun pembangunan SDM serta perekonomian warga., tidak seperti yang dilakukan perusahaan migas di sini. Sejak tsunami Chevron juga membantu Aceh, memulihkan perekonomian, kesehatan, pendidikan dan sebagainya. Padahal ini bukan daerah operasionalnya dan kami sangat terbantu,’’ kata Mawardi.

Bahkan Mawardi pun membuka peluang bagi Chevron untuk mengeksplorasi bahan tambang yang ada di Aceh dengan cara kemitraan sehingga mampu mengangkat tarap perekonomian dan pembangunan Aceh ke depan. ‘’Kalau Chevron bersedia, silakan mengeklporasi bahan tambang. Negeri kami banyak bahan tambang. Selama ini banyak perusahaan Migas yang melakukan, tapi kami tidak merasakan hasilnya, ke depan kami berharap itu jangan lagi terjadi dan kami percaya Chevron bisa,’’ tutur Mawardi didampingi corporate responsibility/corporate engagement indo asia busenis unit, Harrry Bustamam.

Dalam pada itu Managing Director hevron Indo Asia Business Unit (IBU), Steve Green mengatakan, bantuan yang diluncurkan Chevron selama ini di Aceh pasca tsunami murni bantuan kemanusiaan dan kemitraan dengan pemerintah Inonesia. ‘’Sebab, kemitraan merupakan salah satu nilai yang kami anut dan menjadi titik berat dalam pelaksanaan program community development kami selama ini,’’ ujar Steve Green.

Politeknik Aceh merupakan bagian dari program bersama Chevron Aceh Recovery initiative (CARI) dengan total bantuan 14,7 juta dolar AS. Program ini merupakan wujud komitmen Chevron dalam membantu pemulihan dan rekontruksi pulau Sumatera bagian utara (Aceh dan Nias) pasca tsunami. Kontribusi Chevron itu antara lain 2,7 juta dolat dalam bentuk bantuan kepada organisasi cepat tanggap pasca bencana, antara lain kepada PMI dan Palang Merah Amerika dan sebagainya.

Chevron sendiri mendonasikan dana senilai Rp6 juta dolar AS untuk pembangunan politeknik seluas 8.350 meter persegi dan program pelatihan kerja jangka pendek terhadap 300 pelajar asal Aceh di Politeknik Caltex Rumbai.

Politeknik Aceh ini menyediakan program kejuruan di berbagai bidang teknologi terapan yang sejalan dengan kebutuhan industri lokal seperti teknologi informasi, mekatronika, telekomiunikasi elektronka, akuntasi bisnis. ‘’Melalui kemitraan inilah kita bisa membantu aceh untuk meraih pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan, kesempatan meraih pendidikan berkualitas, dan kemajuan kualitas SDM dibanding waktu sebelumnya,’’ kata Steve Green lagi.

Tentang kemungkinan Chevron membuka lading migas di Aceh, Steve Green mengatakan, sebagai perusahaan migas yang telah 84 tahun beroperasi di Indonesia tentunya Chevron tertarik. Namun semua itu tentu jika direstui BP Migas dan sesuai kriteria yang kami miliki. Sesuai criteria kami, kami akan ambil kesempatan itu,’’ tegas Steve Green lagi.***

Klik disini untuk melanjutkan »»

Rabu, 27 Agustus 2008

Belajar dari Pergantian Kepemimpinan

. Rabu, 27 Agustus 2008
0 komentar

Sekali Gelombang Datang Tepian pun Berubah
Oleh Yasril

BERDIRILAH di pantai. Perhatikan gelombang atau ombak yang datang bergulung-gulung dari tengah laut dan menghempas di pasir pantai. Seketika itu pula keadaan pantai atau tepian pun berubah.


Gambaran seperti ini pun terlihat dalam sistem pemerintahan kita, tidak terkecuali di Riau sendiri. Ketika terjadinya pergantian kekuasaan atau kepemimpinan, bisa dipastikan terjadi pula perubahan kebijakan. Baik menyangkut personil maupun pogram kerja lainnya.

Sebut saja misalnya pada saat suksesi kepemimpinan nasional. Ketika terjadinya perubahan kekuasaan sudah pasti akan diikuti dengan perubahan susunan kabinet. Dan ini pun akan diikuti dengan perubahan kebijaksanaan di masing-masing departemen atau instansi yang ada hingga ke level terendah. Imbas semua itu jelas akan terjadi peningkatan biaya tinggi, pembengkakan anggaran sebagai akibat perubahan kebijakan.

Sebagai contoh, ketika terjadinya perbahan kepemimpinan nasional, sala satu lembaga kementerian yang berubah adalah Departeme Pendiikan dan kebudayaan yang disingkat P dan K. Diganti dengan Departemen Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Depdikpora) dan selanjutnya jadi Departemen Pendidikan Nasional (Diknas).

Perubahan itu ternyata tidak hanya sampai di sana, tapi juga berlanjut dengan yang lainnya. Salah satu contoh terkecil adalah perubahan kertas kop surat, amplop dan sebagainya. Dengan berubahnya nama instansi jelas akan berubah pula kertas surat.

Sebab, tidak akan mungkin instansi B akan menggunakan kertas surat instansi A yang sudah diganti. Padahal kertas surat lama masih menumpuk. Akibatnya, mau tidak mau instansi B yang merupakan jelmaan lembaga lama harus membuat kertas kop baru, logo baru stempel baru yang kesemua itu jelas konsekwensinya harus mengeluarkan uang banyak.

Demikian juga halnya dengan persoalan buku pelajaran. Dimana selama tiga dasa warsa pembangunan berkelanjutan di era Orba, persoalan buku paket pelajaran tidak jadi persoalan, karena pemerintah menyediakannya secara massal dan dirasakan rakyat dari Sabang hingga Meroke. Namun lain halnya yang terjadi saat ini. Tahun ini pakai buku A tahun besok pakai buku B.

Itu hanyalah sebuah contoh kecil dari akibat perubahan kebijakan yang dilakukan di jajaran pemerintahan. Dan masih banyak lagi akibat-akibat lainnya yang harus ditanggung, baik terkait masalah pendanaan, mapun terkait sasaran pembangunan berkelanjutan yang ingin dicapai di negeri ini.

Contoh lain, dari perubahan kebijakan itu adalah, terjadinya peleburan sejumlah lembaga pemerintahan, baik di tingkat nasional maupun daerah. Di antaranya, departemen pemerangan, departemen sosial, dan terakhir lembaga Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) di tingkat kabupaten/kota. Padahal lembaga lembaga itu memiliki tenaga-tenaga fungsional yang bisa langsung menyentuk pada lapisan masyarakat terendah untuk menyampaikan maksu dan tujuan pembangunan. Seperti adanya tenaga penyuluh lapangan pertanian, kehutanan, perikanan, kesehatan, penyuluh penerangan, penyuluh lapangan Keluarga Berenana dan sebagainya.

Berbagai akibat pun muncul ke permukaan. Dan yang lagi hangat-hangatnya dibicarakan saat ini adalah soal terjadinya pembengkakan pertumbuhan penduduk Indonesia. Padahal di era tahun 1980-an dan 1990-an, Indonesia memasuki masa gemilang dalam hal menekan angka pertumbuhan penduduk. Dan ini jadi perhatian internaional.

Namun sejak era desentralsasi yang diikuti dengan penyerahan sebagian aset pusat ke daerah roh BKKBN di daerah seakan tidak lagi terdengar. Selain lembaganya dilebur, tenaga-tenaga fungsional yang selama ini jadi andalan pemerintah dialih fungsikan menjadi tenaga teknis.

Akibatnya, pertumbuhan penduduk tidak dapat terkendali, ancaman baby boom pun sudah di pelupuk mata. Dan ini jelas akan menjadi beban berat bagi pembangunan, baik di daerah maupun secara nasional. Berbagai persoalan kependudukan pun akan muncul secara besar, seperti permasalahan pendidikan, ketenagakerjaan, kesehatan dan sebagainya.

Lantas, kalau hal ini terus berlanjut, di mana letak manisnya pembangunan berkelanjutan yang pernah dirasakan rakyat Inonesia selama tiga dasa warsa di era Orde baru. Akankah sistem yang kejab berubah kejab ganti ini akan berakhir.***

Klik disini untuk melanjutkan »»

Senin, 25 Agustus 2008

Jangan Malu Gunakan Kondom

. Senin, 25 Agustus 2008
0 komentar

Warning, di Masa Epidemi HIV/AIDS

KATA-KATA gunakan kondom oleh sebagian orang dianggap terlalu fulgar atau porno. Namun tunggu dulu, ternyata penggunaan kondom masih merupakan suatu hal yang sangat efektif dalam penularan penyakit kelamin di samping untuk alat kontrasepsi.


Bahkan Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) Nafsiah Mboi Ahad (24/8) mengatakan, ‘’Ada satu cara yang sangat efektif untuk menanggulangi masalah penyebaran HIV/AIDS di Indonesia, namun hingga kini belum bisa optimal yakni upaya untuk membenahi moral bangsa ini agar menjauhi seks bebas dan tidak malu menggunakan kondom.’’

Pertanyaannya, sejauh mana pentingnya gerakan menjauhi seks bebas dan kampanye penggunaan kondom ini? Jawabannya singkat saja. Indonesia termasuk Riau saat ini epidemi AIDS tertinggi di Asia. Tentunya ini merupakan suatu rekor yang cukup memilukan sekaligus memalukan, terutama bagi Riau yang selama ini masih menentang upaya kampanye penggunaan kondom, termasuk pemasangan vending machine. Dalam hal ini KPAN berharap agar ada dukungan dari berbagai pihak untuk ikur aktif memerangi persebaran AIDS di Indonesia yang kian mengkhawatirkan.

Kerisauan dari Komisi Penanggulangan HIV/AIDS ini memang cukup beralasan Sebab, ternyata data terbaru dari Departemen Kesehatan menunjukkan bahwa pada tahun 2007 terdapat penambahan kasus AIDS sebanyak 2947. Bahkan selama empat bulan pertama 2008 ditemukan pula 1546 kasus AIDS d Indonesia.

Nafsiah memaparkan, hingga kini, situasi kumulatif jumlah kasus AIDS di Tanah Air sudah mencapai 12.686 orang. Informasi jumlah ini dihimpun dari 32 propinsi dari 15 kabupaten/kota.

Kasus AIDS terbanyak dilaporkan dari DKI Jakarta, Jawa Barat, Papua, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Barat, Jawa Tengah, Sumatra utara, Sulawesi Selatan dan Kepulauan Riau.

Sementara itu data Dinas Kesehatan Provinsi Riau hingga bulan April 2008 ini, jumlah orang dengan HIV dan AIDS tercatat sebanyak 389 kasus yang terdiri dari 252 kasus HIV dan 137 kasus AIDS. Secara dominan kasus ini terjadi pada kelompok umur 20 hingga 29. Ini menandakan penularan HIV/AIDS di Riau cukup mengkwatirkan.

Menurut hasil survei terpadu HIV dan perilaku tahun 2007, prevalensi di kalangan populasi kunci yang berisiko ketularan telah mencapai 9,5 persen di kalangan wanita Penjaja Seks Komersil (PSK). Sebanyak 5,2 persen di kalangan lelaki yang berhubungan seks dnegan sesama lelaki, dan 52,4 persen pada pengguna Napza suntik.

Di Papua, tambah Nafsiah, prevalensi HIV di masyarakat umum (dewasa) mencapai 2,4 persen. ‘’Proyeksi KPAN dan Depkes, infeksi HIV baru di masa datang akan lebih banyak terjadi melalui transmisi seksual,’’ ujarnya.

Nafsiah menambahkan, dengan situasi seperti ini, kasus HIV/AIDS di Tanah Air akan terus meningkat hingga tahun 2020, dengan rata-rata per tambahan 5 persen penderita baru per tahun dan tidak akan turun lagi. Menurutnya, salah satu kendala utama dalam menaggulangi penyebaran HIV/AIDS di Tanah Air adalah resistensi masyarakat terhadap sosialisasi kondom, terapi matadon terhadap pecandu narkoba dan beberapa program lainya yang dinilai bertentangan dengan nilai kultur ketimuran.

Terkait kontinuitas penggunaan kondom pada wanita penjaja seks, Nafsiah mengakui, pihaknya gagal dalam mempromosikan upaya ini. Jumlah WSP yang menggunakan kondom selama 3 bulan pada tahun 2004, jumlahnya masih sama pada tahun 2007, yakni hanya 36 persen.

Namun penggunaan kondom pada kaum laki-laki berisiko seperti pelaut, pengemudi truk, sopir taksi, dan ojek serta pekerja pelabuhan mengalami peningkatan. Jumlah klinik yang melayani terapi metadon pun bertambah. ‘’Diakui atau tidak KPAN tidak akan mampu bekerja maksimal tanpa kerjasama berbagai lapisan masyarakat.’’ Ujarnya seperti dilansir JPNN.***

Klik disini untuk melanjutkan »»

Kamis, 21 Agustus 2008

Marhaban yaa Ramadhan

. Kamis, 21 Agustus 2008
0 komentar


Assalamu’alaikum wr.wb.
“Allahumma bariklana fii rajab wa sya’ban wa balighna Ramadhan.”
(Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami di bulan Ramadhan). Amiin…


Sungguh, tidak terasa, hari berganti bulan, bulan berganti tahun. Baru saja rasanya kita meninggalkan bulan Syawal 1428 H, kini Ramadhan1429 H telah di pelupuk mata. Hanya dengan hitungan hari, dari 21 hari bulan Sya’ban saat ini, kita akan memasuki Ramadhan. Bulan suci yang dinanti-nantikan umat Musli se antero jagat ini.

Kesucian bulan Ramadhan ini, mengandung makna mendalam. Banyak peristiwa penting yang harus dijadikan pelajaran dan pedoman dalam hidup dan kehidupan sehari-hari bagi umat di muka bumi ini.Baik menyangkut hubungan kita sesama manusia maupun hubungan antara makluk dan Sang penciptanya. Untuk itu suatu kewajiban pula bagi kita untuk introfeksi diri, sudahkah kita mempersiapkan diri menyambut kedatangan bulan yang penuh, rahmah dan maqfirah.

Seperti halnya doa di atas, sebenarnya rahmah hidayah dan maqfirah itu bukan hanya di bulan Ramadhan saja, tapi setiap perputaran bulan, setiap pergantian hari dan setiap pertukaran waktu selalu Allah melimpahkan rahmah, hidayah dan maqfirahnya untuk umat manusia. Tapi, tentunya, bagi umat-umat yang juga selalu mendekatkan diri kepada Allah, dengan cara menjalankan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya.

Makanya, melalui tulisan kali ini penulis mengajak, mari kita sama-sama meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah SWT di Bulan Ramadhan nanti. Ya,.. di antaranya berpuasa seperti diwajibkan pada orang-orang sebelum kita. Shalat Tarawih dan Witir, membaca Alquran shalat Tahajud dan sebagaikan, termasukl berimfaq dan sadaqah serta membayar zakat

Semoga kita menjadi orang-orang yang bertaqwa.
Amin…

Klik disini untuk melanjutkan »»

Selasa, 19 Agustus 2008

Ketika Praktik Calo Merambah Caleg

. Selasa, 19 Agustus 2008
0 komentar

Ingin Mengibuli Petugas, Ternyata Kena Kibul
Oleh Yasril

SOAL kibul mengibul bukan hal baru di negeri ini. Entah itu dilakukan aparatur pelayan publik, entah ia swasta, anggota legislatif atau pun ia seorang calon anggota legislatif (Caleg). Buktinya, ada sejumlah Caleg yang harus menjalani tes kejiwaan berupaya mengibuli petugas dengan cara menggunakan jasa calo. E…. ternyata ia pun kena kibul. Benar-benar edan.. tukang kibul terkibuli.


Memang, selama ini aksi percaloan suah banyak terdengar dan dibicarakan baik secara terbuka maupun sembunyi-sembunyi. Ya.. sebut saja misalnya saat mengurus administarsi kependudukan, seperti KTP KK, SIM, Paspor, akte kelahiran dan sejumlah pengurusan lainnya, seperti pengurusan SITU, SIUP, surat tanah bahkan untuk masuk sekolah, masuk kerja, seperti jadi PNS pun ada yang menggunakan jasa calo.

Persoalan percaloan ini sering dibicarakan di legislatif. Bahkan sejumlah anggota legislatif pun secara lantang minta agar pihak eksekutif ataupun yudikatif memberantas aksi percaloan itu sampai ke akar-akanya. Lantas bagaimana kalau yang melakukan aksi itu anggota legislatif atau calon anggota legislatif. Apakah hal ini akan diangkat juga? Mungkinkah jeruk makan jeruk?... Entahlah..

Sejumlah bakal calon anggota legislatif yang menjalani tes kejiwaan di RSJ Tampan beberapa waktu lalu ada yang berbuat curang. Beberapa orang di antaranya enggan menjalani tes

Sejumlah bakal calon anggota legislative yang menjalani tes kejiwaan di RSJ Tampan beberapa waktu lalu ada yang berbuat curang. Beberapa orang di antaranya enggan menjalani tes dan mengisi lembaran tes dan menyerahkannnya kepada calo dengan sejumlah bayaran tertentu. Ya,.. namanya juga usaha.

Tapi ternyata tidak semua usaha itu berjalan mulus apalagi usaha yang diwarnai kecurangan. Buktinya, ketika petugas melakukan pencocokan jawaban antara yang ditulis dengan hasil wawancara, perbuatan curang itu pun terungkap. Dan kemungkinan tidak ketahuan pun sangat kecil. Pada tes wawancara inilah biasanya ketahuan, karena terjadi ketimpangan antara jawaban tertulis dengan wawancara.

“Hampir setiap hari ada yang ketahuan menggunakan jasa calo untuk mengisi lembar pertanyaan tes kejiwaan. Dari sejumlah Balon legislatif yang diminta mengulang tes tertulis itu kemudian terungkap bahwa untuk menggunakan jasa calo mereka dikenakan biaya Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta,” ujar Direktur RSJ Tampan Zulfan Herri seperti dilansir salah satu media elektronika di Pekanbaru.

Praktik serupa pun dijumpai saat bakal calon anggota legislatif akan menjalani tes kesehatan di RSUD. Bahkan Humas RSUD Arifin Achmad, Nuzelli Husnedi mengakui menemukan kasus itu dan meminta agar yang bersangkuta ntuk mengulang tes kembali.

Terlepas dari besar kecilnya bayaran untuk calo, yang pasti, bakal calon anggota legislatif seperti ini perlu diawasi, dievaluasi dan lebih ekstrimnya, tidak perlu dipilih. Pasalnya, dari awal-awal menjadi calon yang menggunakan jasa calo ini menggambarkan bahwa mereka tidak memiliki keseimbangan kejiwaan, tidak percaya diri. Bahkan bukan tidak mungkin akan berbuat yang lebih ketika ia terpilih jadi wakil rakyat nantinya.

Kalau praktik ini teus terjadi dan terjadi lagi, lantas akan jadi apa nantinya negeri ini.
Ini perlu diwaspadai.
Waspada…
waspada….

Klik disini untuk melanjutkan »»

Kamis, 14 Agustus 2008

SEJARAH GERAKAN PRAMUKA

. Kamis, 14 Agustus 2008
1 komentar


Salam Pramuka…..
Kamis (14/8/2008) seluruh anggota Praja Muda Karana (Pramuka) mulai dari Siaga hingga Pandega memperingati hari Pramuka. Namun, tidak semua orang yang tahu apa dan bagaimana sejarah kepanduan di tanah air ini. Berikut, tulisan tentang sejarah Pramuka di Indonesia. Tulisan ini dilansir dari Pramuka.or.id. Sedangkan foto dari fotografer sekneg

Yasril-Purna Pandega Pramuka IKIP Padang



SEJARAH GERAKAN PRAMUKA

AWAL KEPRAMUKAAN DI INDONESIA
Masa Hindia Belanda
Kenyataan sejarah menunjukkan bahwa pemuda Indonesia mempunyai saham besar dalam pergerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia serta ada dan berkembangnya pendidikan kepramukaan nasional Indonesia. Dalam perkembangan pendidikan kepramukaan itu tampak adanya dorongan dan semangat untuk bersatu, namun terdapat gejala adanya berorganisasi yang Bhinneka.

Organisasi kepramukaan di Indonesia dimulai oleh adanya cabang "Nederlandse Padvinders Organisatie" (NPO) pada tahun 1912, yang pada saat pecahnya Perang Dunia I memiliki kwartir besar sendiri serta kemudian berganti nama menjadi "Nederlands-Indische Padvinders Vereeniging" (NIPV) pada tahun 1916.

Organisasi Kepramukaan yang diprakarsai oleh bangsa Indonesia adalah "Javaanse Padvinders Organisatie" (JPO); berdiri atas prakarsa S.P. Mangkunegara VII pada tahun 1916.

Kenyataan bahwa kepramukaan itu senapas dengan pergerakan nasional, seperti tersebut di atas dapat diperhatikan pada adanya "Padvinder Muhammadiyah" yang pada 1920 berganti nama menjadi "Hisbul Wathon" (HW); "Nationale Padvinderij" yang didirikan oleh Budi Utomo; Syarikat Islam mendirikan "Syarikat Islam Afdeling Padvinderij" yang kemudian diganti menjadi "Syarikat Islam Afdeling Pandu" dan lebih dikenal dengan SIAP, Nationale Islamietishe Padvinderij (NATIPIJ) didirikan oleh Jong Islamieten Bond (JIB) dan Indonesisch Nationale Padvinders Organisatie (INPO) didirikan oleh Pemuda Indonesia.

Hasrat bersatu bagi organisasi kepramukaan Indonesia waktu itu tampak mulai dengan terbentuknya PAPI yaitu "Persaudaraan Antara Pandu Indonesia" merupakan federasi dari Pandu Kebangsaan, INPO, SIAP, NATIPIJ dan PPS pada tanggal 23 Mei 1928.

Federasi ini tidak dapat bertahan lama, karena niat adanya fusi, akibatnya pada 1930 berdirilah Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) yang dirintis oleh tokoh dari Jong Java Padvinders/Pandu Kebangsaan (JJP/PK), INPO dan PPS (JJP-Jong Java Padvinderij); PK-Pandu Kebangsaan).

PAPI kemudian berkembang menjadi Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia (BPPKI) pada bulan April 1938.

Antara tahun 1928-1935 bermuncullah gerakan kepramukaan Indonesia baik yang bernafas utama kebangsaan maupun bernafas agama. kepramukaan yang bernafas kebangsaan dapat dicatat Pandu Indonesia (PI), Padvinders Organisatie Pasundan (POP), Pandu Kesultanan (PK), Sinar Pandu Kita (SPK) dan Kepanduan Rakyat Indonesia (KRI). Sedangkan yang bernafas agama Pandu Ansor, Al Wathoni, Hizbul Wathon, Kepanduan Islam Indonesia (KII), Islamitische Padvinders Organisatie (IPO), Tri Darma (Kristen), Kepanduan Azas Katholik Indonesia (KAKI), Kepanduan Masehi Indonesia (KMI).

Sebagai upaya untuk menggalang kesatuan dan persatuan, Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia BPPKI merencanakan "All Indonesian Jamboree". Rencana ini mengalami beberapa perubahan baik dalam waktu pelaksanaan maupun nama kegiatan, yang kemudian disepakati diganti dengan "Perkemahan Kepanduan Indonesia Oemoem" disingkat PERKINO dan dilaksanakan pada tanggal 19-23 Juli 1941 di Yogyakarta.

Masa Bala Tentara Dai Nippon
"Dai Nippon" ! Itulah nama yang dipakai untuk menyebut Jepang pada waktu itu. Pada masa Perang Dunia II, bala tentara Jepang mengadakan penyerangan dan Belanda meninggalkan Indonesia. Partai dan organisasi rakyat Indonesia, termasuk gerakan kepramukaan, dilarang berdiri. Namun upaya menyelenggarakan PERKINO II tetap dilakukan. Bukan hanya itu, semangat kepramukaan tetap menyala di dada para anggotanya.

Masa Republik Indonesia
Sebulan sesudah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, beberapa tokoh kepramukaan berkumpul di Yogyakarta dan bersepakat untuk membentuk Panitia Kesatuan Kepanduan Indonesia sebagai suatu panitia kerja, menunjukkan pembentukan satu wadah organisasi kepramukaan untuk seluruh bangsa Indonesia dan segera mengadakan Konggres Kesatuan Kepanduan Indonesia.

Kongres yang dimaksud, dilaksanakan pada tanggal 27-29 Desember 1945 di Surakarta dengan hasil terbentuknya Pandu Rakyat Indonesia. Perkumpulan ini didukung oleh segenap pimpinan dan tokoh serta dikuatkan dengan "Janji Ikatan Sakti", lalu pemerintah RI mengakui sebagai satu-satunya organisasi kepramukaan yang ditetapkan dengan keputusan Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan No.93/Bag. A, tertanggal 1 Februari 1947.

Tahun-tahun sulit dihadapi oleh Pandu Rakyat Indonesia karena serbuan Belanda. Bahkan pada peringatan kemerdekaan 17 Agustus 1948 waktu diadakan api unggun di halaman gedung Pegangsaan Timur 56, Jakarta, senjata Belanda mengancam dan memaksa Soeprapto menghadap Tuhan, gugur sebagai Pandu, sebagai patriot yang membuktikan cintanya pada negara, tanah air dan bangsanya. Di daerah yang diduduki Belanda, Pandu Rakyat dilarang berdiri,. Keadaan ini mendorong berdirinya perkumpulan lain seperti Kepanduan Putera Indonesia (KPI), Pandu Puteri Indonesia (PPI), Kepanduan Indonesia Muda (KIM).

Masa perjuangan bersenjata untuk mempertahankan negeri tercinta merupakan pengabdian juga bagi para anggota pergerakan kepramukaan di Indonesia, kemudian berakhirlah periode perjuangan bersenjata untuk menegakkan dan mempertahakan kemerdekaan itu, pada waktu inilah Pandu Rakyat Indonesia mengadakan Kongres II di Yogyakarta pada tanggal 20-22 Januari 1950.

Kongres ini antara lain memutuskan untuk menerima konsepsi baru, yaitu memberi kesempatan kepada golongan khusus untuk menghidupakan kembali bekas organisasinya masing-masing dan terbukalah suatu kesempatan bahwa Pandu Rakyat Indonesia bukan lagi satu-satunya organisasi kepramukaan di Indonesia dengan keputusan Menteri PP dan K nomor 2344/Kab. tertanggal 6 September 1951 dicabutlah pengakuan pemerintah bahwa Pandu Rakyat Indonesia merupakan satu-satunya wadah kepramukaan di Indonesia, jadi keputusan nomor 93/Bag. A tertanggal 1 Februari 1947 itu berakhir sudah.

Mungkin agak aneh juga kalau direnungi, sebab sepuluh hari sesudah keputusan Menteri No. 2334/Kab. itu keluar, maka wakil-wakil organi-sasi kepramukaan menga-dakan konfersensi di Ja-karta. Pada saat inilah tepatnya tanggal 16 September 1951 diputuskan berdirinya Ikatan Pandu Indonesia (IPINDO) sebagai suatu federasi.

Pada 1953 Ipindo berhasil menjadi anggota kepramukaan sedunia
Ipindo merupakan federasi bagi organisasi kepramukaan putera, sedangkan bagi organisasi puteri terdapat dua federasi yaitu PKPI (Persatuan Kepanduan Puteri Indonesia) dan POPPINDO (Persatuan Organisasi Pandu Puteri Indonesia). Kedua federasi ini pernah bersama-sama menyambut singgahnya Lady Baden-Powell ke Indonesia, dalam perjalanan ke Australia.

Dalam peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI yang ke-10 Ipindo menyelenggarakan Jambore Nasional, bertempat di Ragunan, Pasar Minggu pada tanggal 10-20 Agustus 1955, Jakarta.

Ipindo sebagai wadah pelaksana kegiatan kepramukaan merasa perlu menyelenggarakan seminar agar dapat gambaran upaya untuk menjamin kemurnian dan kelestarian hidup kepramukaan. Seminar ini diadakan di Tugu, Bogor pada bulan Januari 1957.

Seminar Tugu ini meng-hasilkan suatu rumusan yang diharapkan dapat dijadikan acuan bagi setiap gerakan kepramukaan di Indonesia. Dengan demikian diharapkan ke-pramukaan yang ada dapat dipersatukan. Setahun kemudian pada bulan Novem-ber 1958, Pemerintah RI, dalam hal ini Departemen PP dan K mengadakan seminar di Ciloto, Bogor, Jawa Barat, dengan topik "Penasionalan Kepanduan".

Kalau Jambore untuk putera dilaksanakan di Ragunan Pasar Minggu-Jakarta, maka PKPI menyelenggarakan perkemahan besar untuk puteri yang disebut Desa Semanggi bertempat di Ciputat. Desa Semanggi itu terlaksana pada tahun 1959. Pada tahun ini juga Ipindo mengirimkan kontingennya ke Jambore Dunia di MT. Makiling Filipina.
Nah, masa-masa kemudian adalah masa menjelang lahirnya Gerakan Pramuka.
KELAHIRAN GERAKAN PRAMUKA

Latar Belakang Lahirnya Gerakan Pramuka
Gerakan Pramuka lahir pada tahun 1961, jadi kalau akan menyimak latar belakang lahirnya Gerakan Pramuka, orang perlu mengkaji keadaan, kejadian dan peristiwa pada sekitar tahun 1960.

Dari ungkapan yang telah dipaparkan di depan kita lihat bahwa jumlah perkumpulan kepramukaan di Indonesia waktu itu sangat banyak. Jumlah itu tidak sepandan dengan jumlah seluruh anggota perkumpulan itu.

Peraturan yang timbul pada masa perintisan ini adalah Ketetapan MPRS Nomor II/MPRS/1960, tanggal 3 Desember 1960 tentang rencana pembangunan Nasional Semesta Berencana. Dalam ketetapan ini dapat ditemukan Pasal 330. C. yang menyatakan bahwa dasar pendidikan di bidang kepanduan adalah Pancasila. Seterusnya penertiban tentang kepanduan (Pasal 741) dan pendidikan kepanduan supaya diintensifkan dan menyetujui rencana Pemerintah untuk mendirikan Pramuka (Pasal 349 Ayat 30). Kemudian kepanduan supaya dibebaskan dari sisa-sisa Lord Baden Powellisme (Lampiran C Ayat 8).

Ketetapan itu memberi kewajiban agar Pemerintah melaksanakannya. Karena itulah Pesiden/Mandataris MPRS pada 9 Maret 1961 mengumpulkan tokoh-tokoh dan pemimpin gerakan kepramukaan Indonesia, bertempat di Istana Negara. Hari Kamis malam itulah Presiden mengungkapkan bahwa kepanduan yang ada harus diperbaharui, metode dan aktivitas pendidikan harus diganti, seluruh organisasi kepanduan yang ada dilebur menjadi satu yang disebut Pramuka. Presiden juga menunjuk panitia yang terdiri atas Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Menteri P dan K Prof. Prijono, Menteri Pertanian Dr.A. Azis Saleh dan Menteri Transmigrasi, Koperasi dan Pembangunan Masyarakat Desa, Achmadi. Panitia ini tentulah perlu sesuatu pengesahan. Dan kemudian terbitlah Keputusan Presiden RI No.112 Tahun 1961 tanggal 5 April 1961, tentang Panitia Pembantu Pelaksana Pembentukan Gerakan Pramuka dengan susunan keanggotaan seperti yang disebut oleh Presiden pada tanggal 9 Maret 1961.

Ada perbedaan sebutan atau tugas panitia antara pidato Presiden dengan Keputusan Presiden itu.

Masih dalam bulan April itu juga, keluarlah Keputusan Presiden RI Nomor 121 Tahun 1961 tanggal 11 April 1961 tentang Panitia Pembentukan Gerakan Pramuka. Anggota Panitia ini terdiri atas Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Prof. Prijono, Dr. A. Azis Saleh, Achmadi dan Muljadi Djojo Martono (Menteri Sosial).

Panitia inilah yang kemudian mengolah Anggaran Dasar Gerakan Pramuka, sebagai Lampiran Keputusan Presiden R.I Nomor 238 Tahun 1961, tanggal 20 Mei 1961 tentang Gerakan Pramuka.

Kelahiran Gerakan Pramuka Kelahiran
Gerakan Pramuka ditandai dengan serangkaian peristiwa yang saling berkaitan yaitu :

1. Pidato Presiden/Mandataris MPRS dihadapan para tokoh dan pimpinan yang mewakili organisasi kepanduan yang terdapat di Indonesia pada tanggal 9 Maret 1961 di Istana Negara. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai HARI TUNAS GERAKAN PRAMUKA

· Diterbitkannya Keputusan Presiden Nomor 238 Tahun 1961, tanggal 20 Mei 1961, tentang Gerakan Pramuka yang menetapkan Gerakan Pramuka sebagai satu-satunya organisasi kepanduan yang ditugaskan menyelenggarakan pendidikan kepanduan bagi anak-anak dan pemuda Indonesia, serta mengesahkan Anggaran Dasar Gerakan Pramuka yang dijadikan pedoman, petunjuk dan pegangan bagi para pengelola Gerakan Pramuka dalam menjalankan tugasnya. Tanggal 20 Mei adalah; Hari Kebangkitan Nasional, namun bagi Gerakan Pramuka memiliki arti khusus dan merupakan tonggak sejarah untuk pendidikan di lingkungan ke tiga. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai HARI PERMULAAN TAHUN KERJA.

· Pernyataan para wakil organisasi kepanduan di Indonesia yang dengan ikhlas meleburkan diri ke dalam organisasi Gerakan Pramuka, dilakukan di Istana Olahraga Senayan pada tanggal 30 Juli 1961. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai HARI IKRAR GERAKAN PRAMUKA.

2. Pelantikan Mapinas, Kwarnas dan Kwarnari di Istana Negara, diikuti defile Pramuka untuk diperkenalkan kepada masyarakat yang didahului dengan penganugerahan Panji-Panji Gerakan Pramuka, dan kesemuanya ini terjadi pada tanggal pada tanggal 14 Agustus 1961. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai HARI PRAMUKA.

Gerakan Pramuka Diperkenalkan
Pidato Presiden pada tanggal 9 Maret 1961 juga menggariskan agar pada peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI Gerakan Pramuka telah ada dan dikenal oleh masyarakat. Oleh karena itu Keppres RI No.238 Tahun 1961 perlu ada pendukungnya yaitu pengurus dan anggotanya.

Menurut Anggaran Dasar Gerakan Pramuka, pimpinan perkumpulan ini dipegang oleh Majelis Pimpinan Nasional (MAPINAS) yang di dalamnya terdapat Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan Kwartir Nasional Harian.

Badan Pimpinan Pusat ini secara simbolis disusun dengan mengambil angka keramat 17-8-’45, yaitu terdiri atas Mapinas beranggotakan 45 orang di antaranya duduk dalam Kwarnas 17 orang dan dalam Kwarnasri 8 orang.

Namun demikian dalam realisasinya seperti tersebut dalam Keppres RI No.447 Tahun 1961, tanggal 14 Agustus 1961 jumlah anggota Mapinas menjadi 70 orang dengan rincian dari 70 anggota itu 17 orang di antaranya sebagai anggota Kwarnas dan 8 orang di antara anggota Kwarnas ini menjadi anggota Kwarnari.

Mapinas diketuai oleh Dr. Ir. Soekarno, Presiden RI dengan Wakil Ketua I, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Wakil Ketua II Brigjen TNI Dr.A. Aziz Saleh.

Sementara itu dalam Kwarnas, Sri Sultan Hamengku Buwono IX menjabat Ketua dan Brigjen TNI Dr.A. Aziz Saleh sebagai Wakil Ketua merangkap Ketua Kwarnari.

Gerakan Pramuka secara resmi diperkenalkan kepada seluruh rakyat Indonesia pada tanggal 14 Agustus 1961 bukan saja di Ibukota Jakarta, tapi juga di tempat yang penting di Indonesia. Di Jakarta sekitar 10.000 anggota Gerakan Pramuka mengadakan Apel Besar yang diikuti dengan pawai pembangunan dan defile di depan Presiden dan berkeliling Jakarta.

Sebelum kegiatan pawai/defile, Presiden melantik anggota Mapinas, Kwarnas dan Kwarnari, di Istana negara, dan menyampaikan anugerah tanda penghargaan dan kehormatan berupa Panji Gerakan Kepanduan Nasional Indonesia (Keppres No.448 Tahun 1961) yang diterimakan kepada Ketua Kwartir Nasional, Sri Sultan Hamengku Buwono IX sesaat sebelum pawai/defile dimulai.

Peristiwa perkenalan tanggal 14 Agustus 1961 ini kemudian dilakukan sebagai HARI PRAMUKA yang setiap tahun diperingati oleh seluruh jajaran dan anggota Gerakan Pramuka.
Sumber: Kwartir Nasional Gerakan Pramuka,
: Pramuka.or.id
: foto sekneg

Klik disini untuk melanjutkan »»

Rabu, 13 Agustus 2008

Dari Harganas XV dan BB GM V di Pekanbaru

. Rabu, 13 Agustus 2008
0 komentar

Jangan Biarkan Individualisme Berkembang
Oleh Yasril

PENCANANGAN Hari Keluarga Nasisoanl (Harganas) XV dan Bulan Bakti Gotong-royong Masyarakat (BBGM) V di Pekanbaru yang berlangsung Rabu (13/8/2008) memiliki arti penting dalam pembinaan masyarakat perkotaan. Ini lebih terasa, ketika pada acara itu terlihat pula sejumlah alat gotong-royong, baik berupa sapu, gerobak maupu pun kentongan.


‘’Alat-alat ini memiliki nilai falsapah yang tinggi untuk menjalin rasa persatuan dan kesatuan serta kebersamaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,’’ kata Wakil Wali Kota Pekanbaru Drs H Erizal Muluk saat pencanangan Harganas XV dan BBGM V di Kelurahan Tangkerang Tengah, Kecamatan Marpoyan Damai, Pekanbaru, Rabu (13/8/2008)

Hadir pada acara itu, Kepala BKKBN Riau, Drs H Marlis Alamsa, pejabat dinas instansi di lingkungan Pemko Pekanbaru, Camat, lurah serta tokoh masyarakat.

Selain dilaksanakannya pengobatan massal, penyerahan alat gotong-royong, juga dilakukan penyerahan hadiah kepada pemenang lomba desa/kelurahan 2008. Selain itu juga dilakukan kegiatan pasar murah. Kegiatan ini mendapat perhatian dari masyarakat, terutama untuk mendapatkan Sembako dengan harga murah.

Dikatakan Wakil Wali Kota Pekanbaru Erizal Muluk, makna filosofi yang terkandung dalam kegiatan Harganas dan BBGM ini harus dihayati masyarakat kota. Sebab untuk menciptakan Sumber Daya Manusia yang berkualitas itu harus dimulai dari keluarga. Makanya pula perlu menciptakan keluarga berkualitas yang tentunya dengan perencanaan yang matang.

Keluarga yang berkualitas itu menurutnya akan menghasilkan manusia-manusia yang sosial dan mampu hidup berdampingan satu sama lainnya. Bisa saling bahu membahu dan membina membangun daerah secara gotong-royong. Dan tidak hidup secara sendiri-sendiri. ‘’Saya minta jangan biarkan berkembang sifat individualisme di kota ini,’’ katanya.

Keinginan Erizal Muluk ini diwujudkan dengan kegiatan sosial, seperti pengobatan massal kerja sama Depkes dan BKKBN, pasar murah, serta penyerahan alat gotong-royong, seperti sapu lidi, gerobak sampah dan kentongan.

Sapu lidi memiliki falsafah persatuan. Hanya dengan cara bersatulah pekerjaan akan bisa terselesaikan dan dengan bersatu pula negeri ini maju. Demikian juga dengan kentongan yang digunakan untuk kegiatan ronda malam untuk saling memberi kabar pada malam hari kepada masyarakat.***

Klik disini untuk melanjutkan »»

Puncak Harganas di Dumai Diwarnai Puting Beliung

.
0 komentar

Ketua TP PKK Terima Manggala Karya Kencana
Oleh Yasril

PUNCAK hari Keluarga Nasional (Harganas) XV di Kota Dumai, Selasa (12/8/2008) yang sejatinya berjalan lancar, diwarnai angin puting beliung. Lagit Kota Dumai yang semula terang, tiba-tiba menghitam, karpet merah yang berada di depan tribun utama tiba-tiba terangkat disusul dengan robohnya tenda para undangan Harganas dan tribun pameran, purna MTQ ke-XXV di lapangan Bukit Gelanggang.



Angin puting beliung ini ternyata tidak hanya dirasakan masyarakat di sekitar arena puncak Harganas saja, tapi hampir di seluruh Kota Dumai, bahkan juga di perairan hingga Selatpanjang.

‘’Kita tak menyangka, musibah ini akan terjadi. Inilah kekuasaan Allah. Rencana oleh kita, ketetapan atau keputusan milik Allah. Ya kita kembalikan kepada Allah,’’ kata Drs H Marlis Alamsa, Kepala BKKBN Riau sehubungan kedatangan angin puting beliung.

Namun demikian, bukan berarti puncak Harganas batal, malah sejumlah kegiatan dan rencana yang telah disusun tetap berjalan. Diantaranya, penyerahan Manggala Karya Kencana, suatu penghargaan tertinggi di bidang KB dari Kepala BKKBN Pusat melalui Deputi KB KR Dr HM Basir Palu SPA MHA kepada Ketua Tim Penggerak PKK Kota Dumai Hj Haslinar Zulkifli AS.

Selain itu, papar Marlis Alamsa, juga dilaksanakan pelayanan KB dan pap smear (mulut rahim) secara gratis yang dipusatkan pada Puskesmas Bumi Ayu Kecamatan Dumai Timur. Kegiatan yang dilaksanakan BKKBN Provinsi Riau dan Dinas Kesehatan Kota Dumai diminati warga. Terutama bagi pasangan usia subur yang ingin memeriksakan pap smear (mengetahui gejala awal kanker rahim).

Dalam rangka peringatan Harganas ini, Koordinator Kesejahteraan Sosial atau K3S Dumai juga memberikan santunan kepada 602 warga tidak mampu. Antara lain 160 penyandang cacat, 250 anak-anak terlantar dan 192 orangtua jompo. Santunan berupa uang sebesar Rp250.000 bagi setiap penerima bantuan tersebut.

Demikian juga dengan bantuan UPPKS dari BKKBN Riau senilai masing-masing Rp5 juta untuk satu kelompok, serta pembentukan pengelola Pusat Informasi dan Konsultasi Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK-KRR) STMIK-AMIK Dumai. ‘’Salah, satu yang tidak sempat dilakukan adalah kegiatan gotong-royong. Itu pun karena cuaca yang tidak bersahabat ketika itu,’’ papar Marlis Alamsa.***

Klik disini untuk melanjutkan »»

Kabar Duka dari Gudep Pramuka UNP

.
0 komentar

Purna Pandega IKIP Padang itu Pergi Selamanya

‘’INNALILLAHI wainna illaihi rojiun. Telah meninggal dunia kak Herman Munaf, Sabtu petang, karena sakit.’’ Begitu pesan singkat (SMS) masuk ke hand phone (HP) saya.


Jawab. Yasril, Purna Pandega Pramuka IKIP Padang beserta keluarga turut berduka cita. Semoga almarhum mendapat temapt yang layak di Sisi-Nya dan keluarga yang ditinggalkan tabah menjalani cobaan. Amin...

Dan setelah dicek ulang, ternyata SMS berasal dari Kak Sabran, salah seorang purna Pandega Pramuka IKIP Padang, yang saat ini mengabdikan diri di salah satu SMK di Kota Bangkinang Kampar, Riau.

SMS ini sungguh mengejutkan. Betapa tidak, ternyata setelah 18 tahun meninggalkan kampus hijau di FIP IKIP Padang, ingatan itu kembali muncul. Ya,.. di saat menjalani perkuliahan di Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan, FIP IKIP Padang. Ya, saat di Koran Kampus Ganto dan terlebih lagi di Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM), tepatnya di Sanggar Gugus Depan (Gudep) Pramuka Pandega IKIP Padang.

Ya,.. ingatan itu akan selalu munsul. Di sana kami diterpa di bidang keorganisasian, kegiatan, keterampilan dan sebagainya. Berbagai kegiatan pun dilakoni sesuai bakat dan kemampuan seorang anggota Pramuka. Mulai dari berkemah, bakti social membantu korban bencana alam, menyamblon dan sebagainya. Banyak kenangan yang tertuang selama menjalani kegiatan kepramukaan itu.

Tentunya ingatan itu akam memunculkan kembali berbagai memori yang telah terpendam selama lebih 20 tahun silam itu. Ya tentu akan muncul gambar atau wajah-wajah kakak-kakak anggota Pramuka IKIP Padang. Sebut saja misalnya, Kak Zulfikar Amar, kak Mimi, Kak Herman Munaf dan sederetan nama-nama lainnya, termasuk kak Sabran yang telah menyampaikan kabar duka ini.

Selaku salah seorang Purna Pandega, tentulah saya berharap, duka menjelang peringatan hari kepanduaan ini akan mampu mengikat kembali tali silaturrahim kita sesama Purna Pandega Pramuka IKIP Padang. Sementara kepada Kakak-kakak yang saat ini membina dan juga sebagai pengurus Gugus Depan Pramuka Universitas Negeri Padang (UNP) ada baiknya menginventarisir data-data pra Purna Pandega Pramuka IKIP Padang dan UNP yang tersebar se antero Nusantara. Ya, salah satunya mungkin dengan saling bertukar email atau SMS, saling kabar mengabari.

Salam buat kakak-kakak Purna pandega IKIP Padang dan UNP. Selamat memperingati hari Pramuka 14 Agustus 2008.

Salam Pramuka…

Klik disini untuk melanjutkan »»

Selasa, 12 Agustus 2008

Pengetahuan Seks Jangan Lagi Dianggap Tabu

. Selasa, 12 Agustus 2008
0 komentar

Banyak Remaja yang Tak Paham Kesehatan Reproduksi
Oleh Yasril

TERNYATA banyak generasi muda atau remaja di Republik Indonesia (RI) ini yang tidak paham tentang kesehatan alat reproduksi yang mereka miliki. Baik kalangan laki-laki maupun remaja wanita. Akibatnya, tidak sedikit anak muda yang salah haluan dan mengabaikan kesehatan diri.


Padahal, kata Deputi KB KR Pusat Dr HM Basir Palu SPA MHA, persoalan kesehatan reproduksi remaja ini bukan lagi hal yang tabu dan jangan lagi dianggap tabu, terutama di saat derasnya arus informasi teknologi yang belum tentu baik.

‘’Makanya peran serta masyarakat, baik dari unsur keluarga maupun tokoh masyarakat, sebagai agen informasi yang baik bagi remaja untuk mengetahui arti penting pemeliharaan alat reproduksi itu,’’ kata Deputi KB KR Pusat Dr HM Basir Palu SPA MHA saat peresmian Pusat Informasi dan Konsultasi Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK-KRR) STMIK-AMIK Dumai di Dumai, Selasa (12/8/2008). Pada saat itu, secara resmi juga dikukuhkan Ketua Pokja PIK-KRR Provinsi Riau Drs H Zailani Arifsyah dikampus Jalan Utama Karya Bukit Batrem.

Menurut Basir Palu, partisipasi masyarakat luas justru menjadi motivasi dalam mengenali dini permasalahan yang dihadapi kalangan remaja. Terutama dunia kampus, banyak persoalan yang seharusnya memerlukan konsultasi atau pemecahan masalah yang memerlukan jalan keluar dan kondisi ini diperlukan pengelola pusat informasi.

‘’Saya kira tidak semua remaja pastinya mengetahui persis tentang kesehatan reproduksi remaja lantaran kurangnya pengetahuan tentang ini mengakibatkan banyaknya anak muda yang salah haluan. Ya, semakin moderninasi zaman langkah pembentukan PIK-KRR dikampus juga sebagai solusi guna membantu kawula muda khususnya mahasiswa mengatasi masalah yang dihadapinya,’’ kata Basir Palu lagi.

Sedangkan Wakil Walikota Dumai dr H Sunaryo menyambut positif PIK-KRR dengan memperhatikan berbagai kondisi terkait permasalahan remaja yang sering terjerumus kedalam pergaulan bebas. ‘’Saya berharap remaja dapat lebih mengerti serta mendalami permasalahan reproduksi dan seks. Minimnya informasi serta pengetahuan membuat remaja banyak mengalami kehancuran masa depan seperti pemakaian narkoba atau seks pra nikah,’’ kata Sunaryo.***

Klik disini untuk melanjutkan »»

Minggu, 10 Agustus 2008

Memahami Ayat-ayat Allah di Alam

. Minggu, 10 Agustus 2008
0 komentar


Mengapa Kamu Tidak Mengambil Pelajaran?

DALAM Alqur'an dinyatakan bahwa orang yang tidak beriman adalah mereka yang tidak mengenali atau tidak menaruh kepedulian akan ayat atau tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah di alam semesta ciptaan-Nya.


Sebaliknya, ciri menonjol pada orang yang beriman adalah kemampuan memahami tanda-tanda dan bukti-bukti kekuasaan sang Pencipta tersebut. Ia mengetahui bahwa semua ini diciptakan tidak dengan sia-sia, dan ia mampu memahami kekuasaan dan kesempurnaan ciptaan Allah di segala penjuru manapun.

Pemahaman ini pada akhirnya menghantarkannya pada penyerahan diri, ketundukan dan rasa takut kepada-Nya. Ia adalah termasuk golongan yang berakal, yaitu "…orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata):

"Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (QS. Aali 'Imraan, 3:190-191)

Di banyak ayat dalam Alqur'an, pernyataan seperti, "Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?", "terdapat tanda-tanda (ayat) bagi orang-orang yang berakal," memberikan penegasan tentang pentingnya memikirkan secara mendalam tentang tanda-tanda kekuasaan Allah. Allah telah menciptakan beragam ciptaan yang tak terhitung jumlahnya untuk direnungkan. Segala sesuatu yang kita saksikan dan rasakan di langit, di bumi dan segala sesuatu di antara keduanya adalah perwujudan dari kesempurnaan penciptaan oleh Allah, dan oleh karenanya menjadi bahan yang patut untuk direnungkan. Satu ayat berikut memberikan contoh akan nikmat Allah ini:

"Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan." (QS. An-Nahl, 16:11)

Marilah kita berpikir sejenak tentang satu saja dari beberapa ciptaan Allah yang disebutkan dalam ayat di atas, yakni kurma. Sebagaimana diketahui, pohon kurma tumbuh dari sebutir biji di dalam tanah. Berawal dari biji mungil ini, yang berukuran kurang dari satu sentimeter kubik, muncul sebuah pohon besar berukuran panjang 4-5 meter dengan berat ratusan kilogram. Satu-satunya sumber bahan baku yang dapat digunakan oleh biji ini ketika tumbuh dan berkembang membentuk wujud pohon besar ini adalah tanah tempat biji tersebut berada.

Bagaimanakah sebutir biji mengetahui cara membentuk sebatang pohon? Bagaimana ia dapat berpikir untuk menguraikan dan memanfaatkan zat-zat di dalam tanah yang diperlukan untuk pembentukan kayu? Bagaimana ia dapat memperkirakan bentuk dan struktur yang diperlukan dalam membentuk pohon?

Pertanyaan yang terakhir ini sangatlah penting, sebab pohon yang pada akhirnya muncul dari biji tersebut bukanlah sekedar kayu gelondongan. Ia adalah makhluk hidup yang kompleks yang memiliki akar untuk menyerap zat-zat dari dalam tanah. Akar ini memiliki pembuluh yang mengangkut zat-zat ini dan yang memiliki cabang-cabang yang tersusun rapi sempurna. Seorang manusia akan mengalami kesulitan hanya untuk sekedar menggambar sebatang pohon. Sebaliknya sebutir biji yang tampak sederhana ini mampu membuat wujud yang sungguh sangat kompleks hanya dengan menggunakan zat-zat yang ada di dalam tanah.

Pengkajian ini menyimpulkan bahwa sebutir biji ternyata sangatlah cerdas dan pintar, bahkan lebih jenius daripada kita. Atau untuk lebih tepatnya, terdapat kecerdasan mengagumkan dalam apa yang dilakukan oleh biji. Namun, apakah sumber kecerdasan tersebut? Mungkinkah sebutir biji memiliki kecerdasan dan daya ingat yang luar biasa?

Tak diragukan lagi, pertanyaan ini memiliki satu jawaban: biji tersebut telah diciptakan oleh Dzat yang memiliki kemampuan membuat sebatang pohon. Dengan kata lain biji tersebut telah diprogram sejak awal keberadaannya. Semua biji-bijian di muka bumi ini ada dalam pengetahuan Allah dan tumbuh berkembang karena Ilmu-Nya yang tak terbatas. Dalam sebuah ayat disebutkan:

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkah tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz). (QS. Al-An'aam, 6:59).

Dialah Allah yang menciptakan biji-bijian dan menumbuhkannya sebagai tumbuh-tumbuhan baru. Dalam ayat lain Allah menyatakan:
Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling? (QS. Al-An'aam, 6:95)

Biji hanyalah satu dari banyak tanda-tanda kekuasaan Allah yang diciptakan-Nya di alam semesta. Ketika manusia mulai berpikir tidak hanya menggunakan akal, akan tetapi juga dengan hati mereka, dan kemudian bertanya pada diri mereka sendiri pertanyaan "mengapa" dan "bagaimana", maka mereka akan sampai pada pemahaman bahwa seluruh alam semesta ini adalah bukti keberadaan dan kekuasaan Allah SWT.
(Sumber, info@harunyahya.com)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Melihat Riau di Usia 51 Tahun

.
0 komentar

Masih Banyak Persoalan Belum Terselesaikan
Oleh Yasril

BANYAK sudah kemajuan yang dicapai Riau dalam usia 51 tahun, tepatnya sejak berpisah dari Provinsi Sumatera Tengah 9 Agustus 1957 silam. Tapi, harus diakui tidak sedikit persoalan dan tan-tangan yang belum terselesaikan dan akan dihadapi negeri ini ke depan.


Sebut saja misalnya, masih tingginya angka kemiskinan, rendanhnya tingkat pendidikan rakyat, kurangnya sekolah dasar dan menengah untuk kaum miskin. Tingginya pertumbuhan penduduk dan pengangguran. Belum tersedianya data kependudukan yang akurat, masih kur¬angnya infrastruktur memadai, perlunya percepatan Dumai sebagai KEKI serta persoalan Listrik yang tak terselesaikan

Selain pun, banyak target yang kini masih diidamkan Riau ke depan dengan visi Riau 2020, seperti mewujudkan status Riau sebagai daerah otonomi khusus dengan harapan bisa memperoleh dana bagi hasil (DBH) yang relatif besar dibanding yang didapat saat ini, seperti halnya Aceh, Papua dan daerah lainnya di Indonesia.

Selain itu, yang juga telah menasional adalah menggesa pember¬lakuan Dumai menjadi kawasan ekonomi khusus di Indonesia (KEKI) atau free trade zona (FTZ) yang didukung dengan kesiapan infrastruktur memadai, baik darat, laut maupun udara, mempersiapkan Riau sebagai pusat pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) serta progran Riau Membaca yang diharapkan mampu meningkatkan pola pikir masyarakat, terutama di pedesaan.

Akankah setumpuk masalah dan target yang akan diraih Riau ke depan tersebut bisa terlaksana dengan baik, atau hanya sekadar janji untuk generasi Riau ke depan? Inilah yang perlu jadi perhatian bersama di usia Riau yang saat ini 51 tahun.

Masyarakat Miskin
Satu hal yang hampir setiap tahun jadi pembicaraan banyak pihak, baik eksekutif, legislatif, pemerintah pusat dan daerah maupun masyarakat banyak, adalah tingkat kemiskinan masyarakat Riau yang masih tinggi. Padahal, daerah ini merupakan daerah penyumbang devisa terbesar di Indonesia, selain Aceh, Kaltim dan Papua.

Persoalan kemiskinan ini sebenarnya bisa diatasi secara bertahap dari berbagai sektor. Sektor pertanian misalnya. Dengan kondisi Riau yang masih hijau itu banyak hal yang bisa dikembang¬kan di sektor pertanian ini, sehingga selain mampu mendongkrak kondisi kemiskinan rakyat, juga mampu membuka lapangan kerja baru. Ini bisa dilakukan dengan mengembangkan pertanian dasar yang diikuti dengan usaha lanjutannya, seperti, agro bisnis, agro industri serta kegiatan industri turunan dari hasil perkebunan.

Memang dalam menangani masalah ini tidak bisa hanya oleh satu pihak Pemprov saja, tapi harus melibatkan semua elemen masyarakat, termasuk pihak swasta yang berinvestasi. Kalau hanya mengandalkan upaya Pemprov dengan alokasi dana di APBD jelas akan lamban.

Buktinya, ketika APBD provinsi dan kabupaten/kota di Riau hanya sekitar Rp625 miliar kehidupan masyarakat di pedesaan cukup menyedihkan, tetapi sekarang ketika APBD di Riau sudah mencapai triliunan, kondisi kehidupan masyarakat di pedesaan begitu-begitu juga atau tidak bergerak. Bahkan masih banyak desa yang hingga kini belum dialiri listrik dan terisolir.

Memang, dalam masalah ini tidak perlu mencari kambing hitam, persoalan kemiskinan di Riau harus dilihat dari berbagai sudut pandang, sebab, banyak faktor yang mempengaruhinya. Antara lain, masalah ketersediaan data akurat. Apakah data yang dipaparkan dan jadi pegangan dari tahun ketahun itu akurat, atau hanya sebatas proyek pengadaan data, tanpa diketahui data berapa sebenarnya keluarga miskin itu, di mana posisinya, siapa orangnya.

Sebelum otonomi daerah, memang BKKBN sebagai data pembanding bagi Badan Pusat Statistik (BPS) melakukan pendataan secara door to door, tapi sejak otonomi bergulir dan BKKBN tidak lagi mengakar di lapis bawah, sebagai akibat petugasnya dialihfungsikan, apakah pendataan itu masih berlangsung? Atau hanya sekadar rekayasa dan terka-terka belaka.

Kalaupun ada BPS, Balitbang, mereka lebih banyak melakukan pengolahan data berdasarkan sample dan dengan pola proyeksi. Padahal untuk melihat tingkat kemiskinan itu tidak bisa hanya dengan pola sample itu.

Faktor yang juga tak kalah pentingnya, adalah tingginya pertumbuhan penduduk Riau, baik dari kelahiran maupun urbanisasi atau perpindahan penduduk ke Riau. Ini jelas menjadi beban di masa sekarang dan ke depan. Mereka dengan berbagai profesi dan bidang kerja bahkan juga pencari kerja berdatangan, tidak hanya dari berbagai daerah dan kota di Pulau Sumatera saja, tapi juga dari luar Sumatera, seperti Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan sebagainya.

Keberadaan Riau secara geografis dan ekonomis sebenarnya sangat menguntungkan dibanding provinsi lain di Sumatera. Ini bukan saja disebabkan posisinya tepat di tengah pulau Sumatera yang juga membuka akses se seluruh provinsi di Sumatera dan kota lain di Indonesia, tapi juga berbatasan langsung dengan negara tetangga yang jauh lebih maju dibanding Indonesia.

Kondisi seperti ini harus mampu dicerna sebagai suatu peluang untuk lebih maju di banding masa silam. Riau, kalau ingin maju, harus memiliki suatu komitmen dan kesamaan pandang dalam memberdayakan potensi daerah dan keuangan negara lebih besar di Riau.

Salah satu caranya kita harus merebut otonomi khusus. Sebab, hanya dengan cara demikianlah Riau akan mendapat porsi yang lebih besar untuk melengkapi infrastruktur yang kurang yang pada gilirannya bermuara pada peningkatan kesejahteraan rakyat sebagai upaya mengentaskan kemiskinan. Itu pun kalau uang yang akan didapat tidak disalahgunakan.

Sejumlah wacana yang saat ini berkembang di Riau, seperti menjadikan Dumai sebagai kawasan ekonomi khusus Indonesia (KEKI), persoalan kelistrikan yang belum ada penyelesaian secara nyata dan kekurangan infrastruktur jalan, sekolah, akan bisa tersele¬saikan, kalau daerah ini memiliki uang banyak.

Sebagai contoh, untuk meujutkan Dumai sebagai KEKI, harus disertai dengan kelengkapan infrastruktur jalan yang representatif yang bisa menghubungkan Dumai dengan pusat provinsi, kesiapan pelabuhan Dumai menjadi pelabuhan internasional yang representatif, rute kereta api serta akses ke provinsi lain di Sumatera dan Indonesia.***

Klik disini untuk melanjutkan »»

Jumat, 08 Agustus 2008

Sisi Lain dari Pemilihan Gubernur Riau 2008

. Jumat, 08 Agustus 2008
0 komentar

Ketika Para Raja Berebut Tahta Singgasana
Oleh. Yasril

PILGUBRI 2008, ibarat pertarungan para raja dalam memperebutkan tahta singgasana kerajaan. Mereka adalah Raja Thamsir Rachman, Raja Mambang Mit, Kanjeng Raden Temenggung (KRT) Rusli Zainal dan Kanjeng Pangeran Aryo (KPA) Suryadi Khusaini.


Pesta Demokrasi, berupa Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Riau segera berlangsung. Bahkan pertarungan para kandidat pun sudah dimulai, meski pada tataran pendukung, sosialisasi dan perang spanduk. Ketiga pasangan calon kepala daerah Provinsi Riau ini pun kian agresif mendekati dan mengambil hati masyarakat agar terpilih dan menduduki tampuk kekuasaan di negeri Melayu ini.

Namun pesta demokrasi kali ini cukup istimewa dibanding kegiatan yang sama pada periode-periode sebelumnya. Kali ini pertarungan perebutan tahta kekuasaan mirip dengan zaman kerajaan tempo doeloe.

Bedanya dengan para raja tempoe doeloe, untuk naik tahta cukup menggantikan raja terdahulu atau mendapat wilayah kekuasaan dari seorang raja yang bekuasa. Dan ini berlangsung turun temurun. Namun sekarang rakyat yang memilih, seperti halnya pemilihan kepala desa.

Selain rakyat langsung yang memilih dan menentukan pemimpinnya, yang bertarung pun tak kalah hebat. Mereka pun terbilang mantap dan berpengaruh di dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Bahkan titel yang mereka sandang pun tak tanggung tanggung.

Dari enam orang yang tampil dalam tiga pasangan calon kepala daerah ini, empat di antaranya terkesan berdarah darah biru atau dari kalangan ningrat.

Dua orang di antara mereka merupakan raja dari ranah Melayu, tepatnya dari Rantau Indragiri. Mereka adalah Raja Thamsir Rachman dan Raja Mambang Mit. Dua orang lainnya mewakili raja tanah Jawa. Mereka adalah Kanjeng Raden Temenggung (KRT) Rusli Zainal dan Kanjeng Pangeran Aryo (KPA) Suryadi Khusaini.

Untuk dapat menduduki tahta pemerintahan, para raja ini melakukan tebar pesona ke berbagai laisan masyarakat. Mereka pun tidak puas hanya menyerahkan kepada para tim sukses, tapi langsung mendekati rakyat lapis bawah. Ini cukup beralasan, karena memang rakyatlah yang akan menentukan pemimpinnya. Selamat bertarung, selamat berdemokrasi dan selamat memilih pemimpin Riau kedepan.***

Klik disini untuk melanjutkan »»

Jangan Rekayasa Data Pemilih

.
0 komentar

oleh Yasril
BUPATI Kampar Drs H Burhanuddin Husein minta agar data pemilih di wilayah Kabupaten Kampar tidak direkayasa. ‘’Penetapan daftar pemilih itu hendaknya benar-benar mengacu pada fakta dan jangan sampai dijadikan komoditas politik,’’ kata Bupati Kampar diwakili Asisten I Drs H Nazaruddin saat membuka sosialisasi pengawasan Pilkada Riau tingkat Kabupaten Kampar di Bangkinang, Rabu (6/8).


Menurut Bupati, hal ini sangat penting, karena pada suasana Pilkada sangat rentan timbulnya gesekan-gesekan. Makanya perlu pencegahan sebelum terjadi.

‘’Untuk itu, perlu ditingkatkan akuratsi dan validasi dara pemilih, sehingga tidak ada lagi penduduk yang memenuhi syarat sebagai pemilih, tapi tidak terdaftar sebagai pemilih,’’ katanya.

Dijelaskannya, berdasarkan data yang ada di tingkat provinsi, terdapat 3.205.849 pemilih dan jumlah TPS sebanyak 4.498 TPS. ‘’Khusus di Kampar, terdapat 396.235 pemilih dengan 934 TPS, itu sudah termasuk di lima desa yang bersengketa di Kecamatan Tapung Hulu,’’ tuturnya.

Bupati juga menegaskan perlunya dilakukan deteksi dini terhadap kemungkinan terjadinya aksi-aksi melawan hukum yang dapat mengganggu kelancaran pelaksanaan Pilkada, terutama saat berlangsung kampanye. ‘’Isu startegis yang sangat memungkinkan terjadinya konflik adalah isu SARA (suku agama, ras). Ini pwerlu perhatian serius demi menjaga situasi yang kondusif,’’ tegasnya.

Untuk itu paparnya perlu pula pengawasan berlapis untuk menjaga kemurnian proses pemungutan suara serta isu money politik dan bentuk penyimpangan lainnya. ‘’Untuk itu, sebagai langkah antisipasi perlu dilakukan dosialisasi pelaksanaan Pilkada dengan melibatkan berbagai instrumen komunikasi dan informasi yang ada. Caranya libatkan masyarakat sebagai agen informasi. Sebab, keberhasilan Pilkada ditentukan oleh masing-masing tahapan yang tengah dan akan dilalui itu,’’ tuturnya lagi.

Dalam pada itu, Ketua Pelaksana Panwas Pilkada Riau, Kabupaten Kampar Aprizal SE mengatakan, maksud pelaksanaan sosialisasi pengawasan Pilkada Riau untuk menyebarluaskan kepada masyaakat tentang tugas, fungsi dan wewenang pengawasan ini kepada masayarakat. Yang terlebih penting lagi adalah memberikan wasasan kepada masyarakat tentang perlunya pengawasan secara terpadu antara petugas dan masyarakat. ‘’Sebab, masalah ini bukan hanya tanggung jawab panwas dan KPU saja, tapi juga semua masyarakat, termasuk yang ada di Kampar,’’ tuturnya.(yasril)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Rabu, 06 Agustus 2008

Futsal Ceria Riau Pos

. Rabu, 06 Agustus 2008
0 komentar


Tak Kuat DIGILIR,
Lipsus Lari Malam

LAGI, Lipsus bikin sensasi. Setelah mendapat penghargaan sebagai tim LUMBUNG gol, dan pernah menjadi momok yang menakuti saat menumbangkan Tim tangguh Midnight. Sekarang Lipsus bikin heboh dunia Futsal Riau Pos.

Kalau yang ini tak tanggung-tanggung, lari sebelum babak usai. Lipsus hanya sanggup meladani para PREMAN ini setengah pertandingan. Setengahnya lagi, hilang entah kemana. Mungkin tak tahan KESUCIANnya DIGILIR para PREMAN, terpaksa lari tengah malam.

Saat dijumpai Ceria, panitia sepertinya menutup-nutupi dan berusaha untuk tidak banyak komentar. “jangan ditulislah, ini timnya Pak Rida bahaya nanti,” ujar seorang panitia coba menakut-nakuti Ceria.

Ketika Ceria mencoba menghubungi Pak Rida yang juga sekaligus Manajer Tim Lipsus melalui telepon genggamnya selalu tidak aktif. Entah sengaja dimatikan atau Ceria yang salah nomor. Menurut informasi yang kami dengar PRESIDEN Lipsus ini sengaja melarikan diri ke Medan dua jam sebelum partai usai.

Di lain pihak, Metropolis sangat kecewa dengan apa yang telah dilakukan tim Lipsus ini. Mereka menganggap ini adalah pelecehan. “Kami merasa dikhianati, nafsu kami sedang diubun-ubun mereka pergi tanpa pesan. Jadi kami ini dianggap lelaki apaan,” kata Iwan Setiawan.

Pengamat Futsal Ceria, Syamsul mengatakan tadi malam , tindakan yang dilakukan Lipsus ini melebihi bunuh diri massal, kalau saya biarlah ditembak asal jangan dengan cara seperti itu.***

Klik disini untuk melanjutkan »»

Selasa, 05 Agustus 2008

Dari Ajang Kreasi Remaja Riau 2008

. Selasa, 05 Agustus 2008
0 komentar


Bentuk PIK-KRR di Setiap Sekolah
oleh Yasril

SETELAH mendapat pemahaman tentang pentingnya Pusat Informasi dan Konseling-Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK-KRR), selama empat hari pelaksanaan Ajang Kreasi Remaja Riau 2008 yang digelar di Rengat, Inhu, Pemkab Setempat bertekat membentuk PIK-KRR di setiap sekolah yang ada.



‘’Kami menyadari, PIK-KRR ini sangat penting, terutama dalam perkembangan kejiwaan masa remaja. Untuk itu kami akan mengupayakan pembentukan PIK- KRR ini minimal di setiap sekolah, terutama SMP dan SMA yang ada di Inhu. Ini dilakukan agar remaja Riau dan Inhu kedepan betul betul memahami masalah reproduksi remaja itu sendiri yang bermanfaat untuk perkembangan mereka,’’ ucap Kepala Kantor Kesejahteraan Sosial Kabupaten Indragiri Hulu, Zulfahmi Adrian AP MSi di sela sela menyaksikan kegiatan out bond, Ajang Kreasi Remaja Riau 2008.

Kepada Desriandi Chandra, wartawan Riau Pos di Inhu, Zulfahmi mengatakan bahwa guna meningkatkan pengetahuan reproduksi remaja, Kessos akan meningkatkan pelayanan Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK - KRR) di Inhu.

Meski dari 180 kecamatan di Riau, yang telah memiliki PIK-KRR baru 40 kecamatan, hal ini kata Zulfahmi bukan berati Inhu tak berbuat. Di daerah itu saat ini telah ada tiga PIK-KRR yakni di SMAN 1 Rengat, SMAN 1 Rengat Barat dan AKPER Provinsi Riau yang ada di Pematangreba. ‘’Ke depan, akan kita upayakan pembentukan di masing-masing sekolah,’’ paparnya.

Pihaknya berharap melalui ajang kreasi remaja Riau tahun 2008 yang digelar 3-6 Agustus di Rengat diharapkan dapat melahirkan remaja yang mempunyai kreatif dalam segala bidang dan terhindar dari hal negatif yang banyak mempengaruhi remaja pada saat ini.

Dalam Ajang Kreasi Remaja yang diikuti sekitar 160 remaja tingkat SMP maupun SMA se Riau dan ditaja selama empat hari, peserta akan mendapatkan ceramah umum, ceramah rohani seputar kegiatan remaja dan bahayanya dimulai dari kesehatan reproduksi remaja hingga pada permasalahan bahaya Narkoba.

Di samping itu juga ada enam perlombaan yang diadakan oleh panitia yang semuanya merupakan lomba untuk mendidik, ditambah dengan Waorkshop, presentasi poster seputar tema dan juga akan dikahiri dengan kagiatan autbond.***

Yasril adalah Ketua Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) Riau.

Klik disini untuk melanjutkan »»

Dari Ajang Kreasi Remaja Riau 2008

.
0 komentar


Kesehatan Reproduksi Remaja Harus Disosialisasikan
oleh Yasril

MASALAH Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) harus disosialisasikan di kalangan pelajar dan mahasiswa. Sebab, tidak sedikit terjadi kasus penyimpangan seksual di kalangan remaja yang diakibatkan ketidaktahuan mereka tentang alat reproduksi.



‘’Ini sudah merupakan kewajiban kita bersama, baik orang tua, tokoh masyarakat, guru serta lembaga sosial masyarakat (LSM) yang peduli akan nasib remaja. Masalah seks di kalangan remaja jangan lagi dianggap tabu,’’ kata Kepala BKKBN Riau Marlis Alamsa, sehubungan digelarnya kegiatan ajang kreasi remaja Riau di Rengat, Ahad (3/8/2008). Kegiatan ini dibuka oleh Gubernur Riau yang diwakili oleh Wakil Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Tengku Abdullah.

Menurut Marlis Alamsa, persoalan kasus penyimpangan seksual di kalangan remaja jangan dianggap hal sepele. Karena semua itu menyangkut masa depan para remaja dan kesehatan tubuh mereka. Salah satu akibat penyimpangan seksual itu, tidak sedikit kalangan remaja yang saat ini menderita HIV/AIDS.

Permasalahan reproduksi remaja ini sangat merisaukan semua kalangan masyarakat, baik tokoh agama, tokoh adat dan pemerintah. Sebab kalangan remaja sangat rentan terhadap permasalahan yang sifatnya dan dampaknya negatif seperti pergaulan bebas, narkoba. ‘’Berdasarkan penelitian, remaja kita lebih banyak mengetahui masalah reproduksi, sex dan semacamnya dari sahabat mereka, dan hal itu belum tentu positif bagi perkembangan pengetahuan remaja, internet, televisi dan sebagainya,’’ ungkap Marlis.

Saat ini saja, jumlah kasus penderita HIV/AIDS di Riau yang melibatkan remaja hingga Mei 2008 lalu mencapai 234 orang remaja. Padahal pada Juli 2007 baru sebanyak 119 remaja yang menderita HIV/AIDS.

‘’Ini baru yang terdata. Dan masih banyak lagi remaja-remaja yang tiak terdata, karena tidak memeriksakan diri. Meningkatnya penderita HIV/AIDS yang melibatkan remaja kita, salah satunya diakibatkan kurangnya informasi dan bimbingan konseling yang mereka dapat,’’ ujar Wakil Kepala Dinas Kesehatan Riau Tengku Abdullah.

Berkaca dari kasus yang menimpa kalangan remaja saat ini, suda saatnya setiap kabupaten/kota, bahkan kecamatan di Riau memiliki Pusat Informasi dan Konseling - Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK - KRR). Karena, kasus yang menimpa kalangan remaja ini juga tersebar di berbagai kecamatan, bahkan desa dan kelurahan yang ada di Riau. Dan saat ini, dari 180 kecamatan, baru 40 kecamatan yang memiliki PIK-KRR.

Padahal kita sangat berharap remaja Riau adalah remaja yang cerdas, kreatif dan terhindar dari narkoba, mudah mudahan dengan kegiatan yang diselenggrakan dalam waktu lebih kurang tiga hari ini mampu memberikan manfaat yang luas dalam perkembangan remaja.
Yasril, Ketua Ikatan Penulis Keluarga Berencana Riau***

Klik disini untuk melanjutkan »»

YASRIL RIAU Desain ByHendrawan and Support by Ridwan CCMD. All Right Seserved

 

Total Tayangan Laman

ARSIP BLOG

Goresan Terbaru

Namablogkamu is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com | Power by blogtemplate4u.com