SAUDARA KU DI MANA PUN BERADA, SEIRING DATANGNYA 1 RAMADHAN 1433 H, MARILAH KITA SALING MEMBERSIHKAN DIRI, KEPADA ALLAH SWT KITA BERTAUBAT SESAMA MANUSIA KITA SALING BERMAAF-MAAFAN. MARI KITA PERBAIKI HUBUNGAN SILATURAHIM SESAMA UMAT, TERUTAMA PADA ORANG TUA, SUAMI ISTRI, SESAMA SAUDARA SEDARAH SERTA DENGAN KAUM KERABAT, JIRAN TETANGGA. SEMOGA DENGAN CARA DEMIKIAN, KITA BISA MENJALANI IBADAH PUASA DENGAN TENANG DAN MENDAPATKAN PAHALA YANG SETIMPAL DI SISI aLLAH SWT. UNTUK ITU, SAYA ATAS NAMA PRIBADI DAN KELUARGA MENGUCAPKAN SELAMAT MENJALANI IBADAH PUASA, MOHON MAAF ZAHIR DAN BATIN. SAUDARA KU, SESUNGGUHNYA BERHAJI MERUPAKAN SALAH SATU RUKUN ISLAM, YANG UNTUK MENJALANKANNYA KITA HARUS MEMILIKI TRESHOLD (NILAI AMBANG BATAS), KELAYAKAN, BAIK JASMANI, ROHANI MAUPUN MATERI. MAKANYA KALAU SUDAH SIAP, SEGERAKANLAH!!

Wednesday, 28 January 2009

Lima Menit, Ibu Lahirkan Delapan Bayi

. Wednesday, 28 January 2009
0 komentar

Kelahiran Butuh 46 Suster dan 8 Kamar


CALIFORNIA – Seorang ibu melahirkan bayi kembar delapan (octuplets) di Los Angeles California, AS, kemarin (27/1). Delapan bayi itu lahir melalui bedah caesar di Rumah Sakit Kaiser, Permante Bellflower.

Mereka berbobot antara 820 gram hingga 1,47 kg. Semuanya dikatakan sehat walafiat meski di antaranya harus menggunakan alat bantu pernapasan. Ibu yang beruntung itu menjadi ibu kedua di dunia yang melahirkan bayi kembar delapan dengan kondisi hidup.

Meski mendapat anugerah luar biasa, sang ibu keberatan identitasnya diungkapkan ke publik, termasuk mengungkap apakah dia menggunakan obat kesuburan atau tidak. Para dokter di Kaiser Permante Bellflower hanya mengatakan, wanita itu melahirkan enam bayi laki-laki dan dua bayi perempuan. Kepada dokter, ibu bayi berencana memberi air susu ibu kepada semua bayinya.

Dokter Karen Maples, juru bicara tim dokter, menggambarkan, persalinan yang terjadi dalam selang waktu lima menit itu benar-benar mencengangkan.
Tim dokter awalnya memprediksi akan membantu kelahiran tujuh bayi, tapi ternyata lahir bayi kedelapan. ”Mata saya melebar, saat tahu ternyata ada bayi kedelapan,” ungkap Maples yang ikut menangani persalinan. Maples mengatakan, kedelapan bayi itu lahir lebih awal enam pekan, tapi dalam kondisi stabil. ”Mereka menjerit-jerit dan menendang-nendang penuh tenaga,” ujarnya.

Sebanyak 46 staf rumah sakit dan delapan ruang perawatan digunakan untuk menyelamatkan bayi-bayi tersebut. Begitu seorang bayi lahir, staf rumah sakit langsung melarikannya ke ruang lain dan menunggu kelahiran bayi selanjutnya. Para dokter mengatakan, bayi-bayi itu akan tetap di rumah sakit sedikitnya selama dua bulan. Sedangkan sang ibu, bisa pulang dalam sepekan ke depan.

Bayi kembar delapan pertama lahir di Houston pada 1998, tapi seorang bayi meninggal dunia sepekan kemudian. Ketujuh bayi itu merayakan ulang tahun ke-10 pada Desember 2008. Mereka terdiri atas lima anak perempuan (Ebuka, Gorom, Chidi, Chima, dan Echerem) serta dua laki-laki (Ikem dan JIoke). Orang tua mereka keturunan Nigeria, Nkem Chukwu dan Iyke Louis Udobi. Keduanya gembira karena ketujuh anak kembarnya tumbuh sehat. (AP/BBC/kim/jppn)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Tuesday, 27 January 2009

Gerhana Matahari

. Tuesday, 27 January 2009
0 komentar


Gerhana Matahari


Proses perjalanan gerhana matahari cincin sangat menakjubkan.

Klik disini untuk melanjutkan »»

Gerhana Mata Hari Cincin

.
0 komentar


Gerhana Matahari Cincin

Klik disini untuk melanjutkan »»

Monday, 26 January 2009

Gong Xi Fa Chai, Wan Se Ru Yi, Qian Tu Guang Ming

. Monday, 26 January 2009
0 komentar

Imlek, Momen Introfeksi Diri


HARI
raya Imlek yang jatuh pada Senin 26 Januari 2009 ini menjadi suatu tradisi bagi warga etnis Tionghoa yang berkeyakinan Buddhis maupun non Buddhis, termasuk penganut Khong Hucu.

Pertukaran tahun ini merupakan fenomena alam yang sangat dihormati oleh warga Tionghoa secara turun termurun. Bahkan dalam sejarahnya, Imlek sudah berlangsung 5000 tahun lebih. Namun dicatat sejak kelahiran Nabi Khong Hucu (551 SM), makanya perhitungan menjadi tahun 2560 (tahun masehi 2009) ini.


Secara spiritual, imlek selalu di jadikan momen untuk berintrospeksi dan refleksi diri, meningkatkan pembinaan batin, setiap saat mencemerlangkan nurani. Secara material berbentuk budaya yang harus dijalankan dan lestarikan dari tahun ke tahun, sebagai anak berbakti dan kepatuhan kepada orang tua.

Dalam perkembangan budaya Tionghoa baik Imlek, Qing Ming, Tiong Qiu maupun lainnya selalu melukiskan aspek ketaatan, kejujuran, keharmonisan dan kepatuhan. Imlek dari tahun ketahun tentu mengalami perubahan dalam diri seseorang, karena setiap tahun sesuai dinamika kehidupan harus berubah menjadi lebih baik dan lebih sukses.

Sistem Penanggalan Tionghoa
Penanggalan dalam Tionghoa sangat unik, dulunya berdasarkan matahari (yanglek), kemudian berganti lagi menjadi Imlek (perputaran bulan), dan ini pun beberapa kali perubahan, sejak Dinasti Xia pertama 2295 SM, kemudian Dinasti Siang, Chou dan Chin pada 221 – 205 M.

Pertukaran tahun yang sampai sekarang dipakai Imlek lebih tepat, karena dimulai pada masa selesai musim dingin (dong thian), kalau dimulai pada pertengahan musim dingin, maka orang tidak mungkin keluar rumah, maka Nabi Khong Hucu sangat berjasa memberikan saran dan pendapat agar Imlek ditetapkan memasuki musim semi, dan dulunya Imlek disebut juga Nong Li, artinya tahun pertahuan, dimana orang memasuki musim bercocok tanam.

Penghayatan Perayaan Imlek,
Dari tahun ketahun semakin menunjukan perkembangan yang bukan hanya sekedar ceremonial saja, orang semakin ingin menghayati dan menganggap Imlek sebagai pertukaran tahun yang harus baru semua, baru secara fisik dan secara batin.

Misalnya bilamana seseorang menjelang Imlek tidak membersihkan rumah atau perilakunya tidak berubah, maka orang itu akan statis selamanya. Orang mempunyai sifat ingin maju dan berkembang, inilah momen yang tepat untuk merubah diri.

Lagi pula dalam pendidikan agama, selalu ditekankan pada pemahaman sebuah kebudayaan secara spiritual dari pada materialnya kepada mahasiswa. Belakangan ini terlihat umat Buddhis sudah memahami dan dalam talkshow imlek kepada warga Tionghoa ternyata banyak yang ingin mengetahui lebih jauh dan bukan ikut-ikutan.

Populasi Warga Tionghoa,
Populasi warga etnis Tionghoa di Riau saat ini masih rancu. Sebab, selain jarang didata, juga telah banyak warga etnis Tionghoa yang meleburkan diri ke masyarakat tempatan. Selain ada yang menjalin kekerabatan rumahtangga dengan warga pribumi, juga banyak warga Tionghoa yang tidak lagi memakai nama-mana Tionghoa dan lebih mekaia nama Indonesia.

Namun yang pasti, mereka tersebar hampir di seluruh wilayah, tidak hanya di Provinsi Riau, tapi juga di seluruh wilayah Indonesia. Di Riau sendiri warga etnis Tionghoa ini, selain bermukim di Pekanbaru, juga banyak di Bengkalis termasuk Rupat Titi Akar, Selatpanjang dan sekitarnya, Bagan (Rokan Hilir) dan Dumai adalah daerah terbanyak. Juga di Rengat, Tembilahan dan sebagainya.

Sama seperti halnya suku bangsa lainnya di Nusantara, etnis Tionghoa ikut serta sama-sama membangun bangsa. Cuma warga Tionghoa lebih banyak pebisnis dari pada pegawai negeri, kehidupan berdagang adalah dominan. Kalau sektor perdagangan, bagi mereka merupakan nafkah utama, karena untuk bergelut disektor lain masih terbatas oleh berbagai hal.

Sektor pendidikan, mulai berangsur keberadaannya dengan dibukanya kelas-kelas kursus dan sekolah-sekolah oleh warga Tionghoa, cuma di bidang politik terkesan masih terkesan kurang berani. Biasanya orang Tionghoa yang terjun di suatu bidang diharapkan keberhasilan, bukan coba-coba. Sedang di bidang pemerintahan masih menunggu kebijakan pemerintah apakah membuka pintu kemudahan untuk warga kita, karena kalau bersaing untuk mencalonkan diri jadi PNS di pemerintahan, tentu diharapkan benar-benar berhasil.

Soal pelaksana pembangunan Riau ini yang terpenting, apakah benar-benar mempunyai komitmen memajukan Riau, bukan hanya sekedar slogan atau manis dimulut saja,. Pelaksana utama pembangunan adalah pemerintah, apakah sudah mencerminkan pemerintah yang solid antara tingkat pimpinan dan bawahan pemerintahan.

Ibarat sebuah kapal yang nakhoda di depan dengan seriusnya membawa kapal, tapi anak buah kapal masih kurang serius memegang tali atau mengecek mesinnya, tentu kapal akan terombang ambing di lautan, maksudnya semua harus bersatulah baik pemerintah, suku bangsa dan warga bangsa.


Soal perubahan tahun, tentu harus pula mengikuti perubahan alam yang semakin dinamis melangkah ke depan dengan penuh optimisme, suatu ramalan bukanlah nasib yang sudah ditentukan, melainkan kitalah yang merubahnya menjadi lebih baik.

Tangan manusia ditakdirkan dua, yang satu sudah ditakdirkan, namun satu lagi untuk merubah. Kita mau ikut yang ditakdirkan atau merubah tergantung pemain sandiwara di dunia ini. Kita haruslah berbuat yang bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi harus mendahulukan kebersamaan, dalam berbuat dengan sehati sekebajikan ikut membangun bangsa.

Kita adalah anak bangsa yang sama, marilah hidup yang selaras, rukun dan damai. Janganlah bersikap diskriminasi terhadap siapapun, alam sangat ramah pada manusia, dan semua yang alam berikan untuk kehidupan manusia tiada habis-habisnya, namun sikap alam tetap sang pemberi tanpa pamrih.

Marilah saudara-saudara saya di manapun, kita merayakan Imlek ini dengan kebahagiaan, dan janganlah lupa bahwa kita bahagia, masih banyak yang menderita, dikala kita kaya dengan harta, ternyata banyak yang melarat tak punya apa-apa, ketika kita tertawa ria ternyata banyak yang menangis, ketika kita memakai sepatu baru dengan indahnya ternyata banyak yang tidak punya kaki, inilah kehidupan yang harus kita hayati dan amalkan bersama. Semoga Tuhan memberkati kita semua dan semua makhluk ikut berbahagia.

Gong Xi Fa Chai, Wan Se Ru Yi, Qian Tu Guang Ming, Semoga sehat dan sukses selalu.***

Tulisan ini merupakan hasil wawancara dengan Sonika, salah seorang tokoh etnis Tionghoa di pekanbaru, Riau yang juga seorang dosen agama Budhis di Universitas Riau.

Klik disini untuk melanjutkan »»

Sunday, 25 January 2009

Caleg Satu Partai pun Saling Jegal

. Sunday, 25 January 2009
0 komentar

Ketika Sistim Suara Terbanyak Diberlakukan


SIKAP individualisme ternyata meramah juga ke ranah politik, bahkan juga menimbulkan persaingan tidak sehat dan saling jegal antar sesama calon anggota legislatif pasca diberlakukannya sistem suara terbanyak.

Pemilihan anggota legislatif (anggota dewan) tahun 2009 ini merupakan suatu sejarah penting dalam sistem demokrasi di Indonesia. Sebab, dalam pemilihan kali ini menggunakan pola suara terbanyak. Tidak seperti berpuluh-puluh tahun silam yang memberlakukan sistem nomor urut dan konstituen atau rakyat pemilih hanya memilih lambang partai. Sedangkan yang akan duduk di lembaga legislatif ditentukan oleh partai berdasarkan posisi nomor urut pencalonan.

Disadari atau tidak, ternyata keputusan Mahkamah Agung ini ajuga membawa perubahan pada sikap dan prilaku elit partai dan para calon anggota partai. Salah satu yang kentara adalah menonjolnya sikap individualisme di kalangan para caleg.

Ini terlihat nyata dari cara mereka merebut simpati calon pemilih di daerah pemilihan masing-masing. Kalau selama berpuluh-puluh tahun silam, cara sosialisasi dan merebut simpati warga dilakukan secara bersama-sama dengan lebih menonjolkan lembaga partai masing-masing. Mereka turun serentak ke masyarakat, mengadakan acara, memberi bantuan dan sebagainya. Itu dilakukan secara bersama sehingga terlihat kekompakan antara pengurus partai, calon anggota legislatif dengan para pengurus tingkat lebih rendah, seperti dari pengurus kelurahan, kecamatan serta kader lainnya.

Dari segi perolehan suara dan kesempatan duduk di lembaga legislatif, lebih menguntungkan bagi calon dengan nomor atas, karena suara yang terkumpul akan dibagi berdasarkan nomor urut calon. Bagi yang memiliki nomor sepatu, jelas akan kecil peluang duduk di dewan, meski pun mereka memiliki suara terbanyak di banding caleg papan atas.

Namun, sejak diberlakukannya sistem suara terbanyak, suasan pun berubah. Kekompakan elit partai dengan para caleg pun mulai memudar. Para berjuang sendiri-sendiri untuk meraih perolehan suara terbanyak.

Tidak heran, meski jadwal kampanye belum diberlakukan, namun kampanye terselubung dengan dalih sosialisasi ke masyarakat telah berlangsung. Berbagai baleho, poster, spanduk, mulai dari ukuran kecil hingga besar bertebaran di pelosok negeri.

Semua alat kampanye itu terpasang, ada yang menempel di dinding-dinding toko dan ruko, di tiang-tiang listrik, terpajang di pinggir jalan, bahkan di kaca mobil, baik pribadi atau pun mobil umum.

Berbagai cara mereka lakukan secara perorangan. Kalau pun ada yang melakukan secara bersama, biasanya para caleg lebih memilih dengan caleg di tingkatan yang berbeda, ketimbang caleg se daerah pemilihan, meski mereka satu partai. Misalnya caleg kabupaten kota akan bekerja sama dengan caleg provinsi dan DPRD RI.

Satu hal yang cukup menarik untuk disimak, ternyata berdasarkan kenyataan di lapangan, tidak sedikit para caleg itu yang mengeluh karena terjadinya persaingan tidak sehat antar sesama partai satu daerah pemilihan. Saling timpal, saling robek, dan saling jegal pun terjadi. Kalau itu dilakukan caleg dari partai lain munkin lain cerita, namun ini dilakukan rekan satu partai.

Misalnya seorang caleg dari partai A yang atelah memasang spanduk dan gambar merasa terusik akibat ulah caleg lain dari partai A yang merobek dan menimpal gambar baru di atas gambar rekan se partainya di tempat yang sama. Kondisi ini terjadi di beberapa wilayah pemilihan di Riau.

Padahal, sebenarnya bisa disiasati dengan berbagai cara, seperti melakukan pemetakan dan bagi wilayah, atau menempelkan di tempat yang sama secara berdampingan. Di sinilah dituntut kedewasaan dari para calon anggota legislatif sebelum duduk di bangku dewan untuk berlaku jujur, sportiv, berani berbuat berani bertanggung jawab, mengutamakan kepentingan bersama ketimbang pribadi.

Semoga saja kita para konstituen di mana saja berada bisa memetik pelajaran dari gambaran demokrasi yang dijalankan para caleg. Semoga para caleg benar-benar mampu menyuarakan aspirasi rakyat. ***

Klik disini untuk melanjutkan »»

Dinginnya Dunia Salju

.
0 komentar

Kami cukup beruntung bisa dibawa papa menikmati suasan dunia salju. Wau.. dingin kali, lebih dingin pula dibanding suasana diBukittinggi atau Padangpanjang. Ya mungkin begini pula yang dialami sahabat kita di negara yang memiliki empat musim ya,...

Klik disini untuk melanjutkan »»

YASRIL RIAU Desain ByHendrawan and Support by Ridwan CCMD. All Right Seserved

 
Namablogkamu is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com | Power by blogtemplate4u.com