SAUDARA KU DI MANA PUN BERADA, SEIRING DATANGNYA 1 RAMADHAN 1433 H, MARILAH KITA SALING MEMBERSIHKAN DIRI, KEPADA ALLAH SWT KITA BERTAUBAT SESAMA MANUSIA KITA SALING BERMAAF-MAAFAN. MARI KITA PERBAIKI HUBUNGAN SILATURAHIM SESAMA UMAT, TERUTAMA PADA ORANG TUA, SUAMI ISTRI, SESAMA SAUDARA SEDARAH SERTA DENGAN KAUM KERABAT, JIRAN TETANGGA. SEMOGA DENGAN CARA DEMIKIAN, KITA BISA MENJALANI IBADAH PUASA DENGAN TENANG DAN MENDAPATKAN PAHALA YANG SETIMPAL DI SISI aLLAH SWT. UNTUK ITU, SAYA ATAS NAMA PRIBADI DAN KELUARGA MENGUCAPKAN SELAMAT MENJALANI IBADAH PUASA, MOHON MAAF ZAHIR DAN BATIN. SAUDARA KU, SESUNGGUHNYA BERHAJI MERUPAKAN SALAH SATU RUKUN ISLAM, YANG UNTUK MENJALANKANNYA KITA HARUS MEMILIKI TRESHOLD (NILAI AMBANG BATAS), KELAYAKAN, BAIK JASMANI, ROHANI MAUPUN MATERI. MAKANYA KALAU SUDAH SIAP, SEGERAKANLAH!!

Saturday, 27 September 2008

Ketika Banjir Melanda Riau

. Saturday, 27 September 2008
0 komentar

Mugkinkah Merelokasi Warga
Oleh Yasril

SEJAK beberapa hari belakangan, berita kebanjiran selalu menghiasi halaman surat kabar dan jadi pemberitaan di media elekktronika, baik radio maupun televisi. Tidak hanya soal soal air menggenangi wilayah pemukiman warga saja, tapi juga masyarakat kebanjiran rejeki, kota kebanjiran gelandangan dan pengemis dan masih banyak lagi kebanjiran lainnnya.


Dimulai dari belahan utara Kota Pekanbaru, tepatnya di sekitar Kelurahan Sri Meranti, Meranti pandak dan wilayah lain di sepanjang alur Sungai Siak misalnya. Sejak hujan mengguyur hampir seluruh wilayah Riau, khususnya Pekanbaru, tingkat stress dan kewaspadaan warga di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Siak pun mulai meningkat.

Mereka, khususnya umat muslim, selain harus menahan menahan lapar dan dahaga di bulan puasa, juga harus mampu meningkatkan kesabaran serta menahan emosi dan gejolak jiwa karena pemukiman mereka digenangi air.

Memang, bagi mereka yang bermukim di sepanjang alur sungai, banjir sudah merupakan hal yang biasa. Dan banjir bukan hal yang menakutkan bagi mereka, karena sudah menjadi bahagian kehidupan bagi mereka. Ini pun sesua dengan dengan filosofis hidup orang pantai ‘’Kalau takut dilamun gelombang jangan berumah di tepi pantai.’’ Pagi hari air surut dan pantai kering, siang atau sore pasang pun datang menggenangi pantai bahkan hingga ke daratan. Terlebih lagi jika di diikuti hujan berjam-jam. Alamat rumah pun tergenang, daratan pun berubah jadi lautan.

Padahal, daerah aliran sungai, terutama kawasan rawa bukan diperuntukan bagi pemukiman warga. Wilayah itu sebenarnya pantas menjadi daerah resapan air yang harus dipertahankan sebagai keseimbangan alam. Namun inilah yang selalu jadi dilema, di mana oleh sebagian orang, daerah itu dijadikan sebagai tempat bermukim. Mungkin awalnya coba-coba. Mungkin awalnya para nelayan mendirikan satu atau dua pondok tempat beristrirahat. Namun, karena keseringan dan banyaknya yang mencoba hal yang sama, maka jadilah ia sebagai wilayah pemukiman baru yang diawali dari pemukiman illegal.

Lantas, haruskah kita menyalahi pemerintah karena abai mengurus tata ruang?
Tunggu dulu. Oleh kebanyakan warga, kebanjiran yang melanda perkampungan mereka selama ini juga dianggap sebagai bahagian dari kebanjiran rejeki, apa lagi kalau ini dijadikan bahan pemberitaan bagi kaum jurnalis untuk mengetuk hati pada dermawan dan pemerintah agar dapat membantu warga yang terkena musibah.

Kondisi ini sudah berlangsung dan menjadi tradisi bertahun-tahun, banjir datang, warga mengungsi, ke tenda-tenda penampungan dan selanjutnya bantuan un mengalir. Setelah air surut, mereka pun kembali ke rumah masing-masing. Ini berlangsung bertahun-tahun bahkan berpuluh-puluh tahun.

Pertanyaannya, haruskah tradisi seperti ini dipertahankan? Apakah tidak ada solusi yang lebih mendidik dan membuat efek jera agar warga tidak lagi bermukim di pinggir pantai atau DAS? Inilah yang sebenarnya harus ditanamkan, agar kejadian selama ini bisa dijadikan ikhtibar atau pembelajaran bagi mereka.

Karena selama ini setiap kali banjir, setiap itu pula keluar statemen pejabat baik eksekutif maupun legislative agar segera merelokasi warga dari kawasan banjir. Namun hanya sebatas retorika belaka yang tidak ada ujung pangkalnya.

Mungkin salah satu jalan keluarnya, pemerintah kota shering dengan pemerintah provinsi bahkan kalau bisa dengan pemerintah pusat untuk melakukan pembebasan lahan atau merelokasi pemukiman warga yang berada di daerah aliran sungai dan mengembalikan fungsi rawa sebagai daerah resapan air. Tentunya rencana besar ini harus diikuti dengan kekuatan hukum berupa peraturan, baik peraturan daerah maupun peraturan pemerintah yang juga bukan hanya slogan atau retoika belaka, tapi harus dibuktikan secara konkret.*

Klik disini untuk melanjutkan »»

Free Seks Kalangan Remaja di Riau

.
0 komentar

Wau!... 44 Persen Pengantin Hamil Duluan?
Oleh Yasril

PERGAULAN bebas yang berujung pada praktik seks bebas (free seks) di kalangan generasi muda di Riau ternyata bukan isapan jempol, malah sebaliknya jadi kenyataan. Jika ini tidak segera diantisipasi, bukan tidak mungkin dekadensi moral dan mala petaka akan selalu terjadi dan silih berganti di negeri ini.


Data dan fakta yang diungkapkan Wakil Wali Kota Dumai H dr Sunaryo di hadapan jamaah Masjid Mu-Minun, Air Besar, Kelurahan Bukit Nenas, saat Safari Ramadhan Senin (15/9) lalu — mengenai pergaulan bebas kalangan generasi muda yang berujung ke pernikahan sungguh memilukan.

Dikatakan Sunaryo, Kecamatan Bukit Kapur merupakan rangking nomor satu dari empat kelurahan yang ada di Kota Dumai. Hal itu dibuktikan dengan data untuk tahun 2008 di Bukit Kapur, dari Januari hingga April terdapat 153 pasang yang menikah di kantor KUA. Sebanyak 44 persen di antaranya, merupakan pasangan yang telah melakukan hubungan seks pra nikah yang berujung pada kehamilan.

‘’Angka tersebut merupakan rekor terbesar dibandingkan Dumai Barat dan Dumai Timur yang hanya mengantongi 22 persen yang nikah telah hamil dahulu,’’ kata H Sunaryo di hadapan Dandim 0303 Bengkalis Kapt Kav Hendrawan, Waka Polresta Dumai, Kabag Protokoler, Kabag pembangunan dan Camat Bukit Kapur Fauzi Efrizal serta Lurah Bukit nenas Drs Sawir Kasim.

Tapi yang pasti, informasi miris yang diungkapkan petinggi Kota Dumai yang juga seorang dekter itu bukanlah untuk diketawakan. Sebab, sebenarnya banyak pesan yang terkandung dalam pernyataan itu.

Setidaknya, dituntut kepada setiap keluarga yang memiliki anak remaja untuk selalu membimbing dan mengarahkan agar tidak terjerumus ke dalam lembah kenistaan. Yang terpenting lagi adalah bagaimana upaya setiap keluarga, sekolah dan lembaga instansi terkait termasuk BKKBN untuk dapat memberikan bimbingan dan pengetahuan kepada remaja tentang kesehatan reproduksi remaja.

Dan sudah saatnya pula, persoalan pendidikan seks, kesehatan reproduksi remaja, pengaruh dan akibat seks bebas diinformasikan kepada remaja. Jangan lagi dianggap sebagai informasi yang tabu, sehingga anak remaja berupaya mencari tahu sendiri dan meraba-raba tanpa ada bimbingan. Celaka nanti.

Mari kita selamatkan negeri ini melalui upaya-upaya pembinaan generasi muda.***

Klik disini untuk melanjutkan »»

Thursday, 25 September 2008

Dari Rapat Telaah Program KB Nasional Riau - 2008

. Thursday, 25 September 2008
0 komentar

Segera Revitalisasi Tugas-tugas PLKB
Laporan Yasril, Pekanbaru
Yasril123@yahoo.co.id

GUBERNUR Riau Drs H Wan Abu baker MS MSi minta agar semua kabupaten/kota yang ada di Riau segera merevitalisasi tugas-tugas Penyuluh Lapangan KB (PLKB). Hal ini bertujuan agar program penyuluhan bias berjalan kembali dengan pencapaian sasaran keluarga berkualitas.


‘’Masalah ini perlu ada jalan keluarnya. Sebab, kondisi saat ini terlihat makin berkurangnya tenaga penyuluh KB di lapangan, akibat banyaknya PLKB yang sudah pindah tugas ke instansi lain. Padahal program KB ini sudah merupakan urusan wajib bagi setiap kabupaten/kota dengan mendirikan Badan Pemberdayaa Prempuan dan KB,’ kata Gubri Wan Abu Bakar dalam amanatnya yang dibacakan Kadis Kesehatan Riau drg Burhanuddin Agung saat rapat telaah program KB Nasional 2008, Kamis (25/9).
Kegiatan ini selain dihadiri pejabat BKKBN Pusat, juga dihadiri instansi terkait dari kabupaten/kota se Riau.

Dipaparkan Gubri, pentingnya pembenahan kelembagaan KB di tingkat kabupaten/kota se Riau itu, karena banyaknya persoalan kependdukan yang tengah dihadapi Riau saat ini. Di antaranya rendahnya kesejahteraan masyarakat dan kualitas sumber daya manusia (SDM. Tingginya angka penggangguran sebagai akibat tingginya angka pertumbuhan penduduk Riau yang melampaui rata-rata nasional.

‘’Pertumbuhan penduduk Riau harus segera dikendalikan agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari. Salah satunya melalui program KB yang meliputi program keluarga berencana, program kesehatan reproduksi remaja, program ketahanan dan pemberdayaan keluarga serta program penguatan kelembagaan keluarga kecil berkualitas,’’ tegas Wan Abubakar.

Pembenahan program KB di daerah ini ujar Gubri harus dilakukan secara terkoordinir dan terpadu, mulai dari kelembagaan, personil serta program yang dilaksanakan. ‘’ Selain itu setiap kabupaten/kota juga diminta mengaktifkan kembali pos pelayanan terpadu (Posyandu), ajak ibu hamil untuk memeriksakan kandungannya minimal 4 kali semasa kehamilan, berikan imunisasi lengkap pada bayi, timbang bayi dan balita tiap bulan, berantas jentik nyamuk dengan 3 M Plus, jaga lingkungan agar tetap bersih serta ikuti program KB,’’ tambahnya.

Dalam pada itu, PltKepala BKKBN Riau Drs H Pengadilan Nasution mengatakan seiring dengan keinginan pembenagan program KB di Riau, maka dari 11 kabupaten/kota yang ada, baru lima daerah yang telah memiliki peraturan daeran tentang kelembagaan badan Pemberdayaan Perempuan dan KB. Yakni, Kampar, Rohul, Rohil, Dumai dan Pekanbaru.

‘’Kami berharap yang lainnya segera membentuk kelembagaan yang sama, agar penyuluhan KB lebih terarah, sehingga visi program KB akan lebih cepat terwujud, yaitu seluruh keluarga ikut KB,’’ kata Pengadilan Nasution.

Pengadilan juga melaporkan hasil pencapaian peserta KB di Riau 2008, dimana peserta KB aktif tercatat 479.779 akseptor atau 50,10 persen dari 957.568 pasangan usia subur (PUS). Peserta KB Baru sebanyak 76.939 akseptor. Pencapaian peserta KB pria 2.404 peserta dengan alat kontrasepsi MOP dan kondom. ‘’Selain itu, menurut hasil survey demografi dan kesehatan Indonesia (SDKI) terjadi penurunan angka kelahiran total provinsi Riau dari 3,2 pada tahun 2003 menjadi 2,7 pada tahun 2007,’’ katanya.

Klik disini untuk melanjutkan »»

Saturday, 20 September 2008

Mabes TNI Ikut Peduli Pertumbuhan Penduduk Riau

. Saturday, 20 September 2008
0 komentar

Kelembagaa KB harus Segera Dipikirkan
Laporan Yasril, Pekanbaru
Yasril123@yahoo.co.id

TINGGINYA angka pertumbuhan penduduk Riau, saat ini menjadi sototan pemerintah pusat. Bahkan Mabes TNI pun merasa peduli untuk mengantisipasi agar tidak terjadi ledakan penduduk di masa depan.


‘’Pertumbuhan sebesar 6,1 persen dengan angka kelahiran (TFR) sebesar 2,7 sangat jauh melampui target nasional sebesar 2,6. Ini harus segera dikendalikan secara bersama dan terpadu,’’ kata Kautnit Baktikes Puskes TNI Letkol Laut Drs HeriPriatna STFT, SKM, MM di Pekanbaru (Kamis (18/9).

Kehadirian rombongan Mabes TNI ke Riau ini dalam rangka evaluasi program TNI Manunggal KB-Kes (TMKK ) yang dilaksanakan secara serentak di Indonesia. Selain ke BKKBN Riau, rombongan tim Evaluasi TMKK pusat ini juga mendatangi Korem 0301 Wirabima, Makodim Pekanbaru serta dilanjutkan ke Kabupaten Kampar.

Selain ke Riau, tim juga mendatangi tiga provins lain yang juga nantinya dijadikan sebagai sample dan model pelaksanaan TMKK ke depan. Masing-masing ke Pontianak (Kalbar), NTT serta ke Sulawesi Tengah.

Menurut Heri, pengendalian pertumbuhan penduduk ini suatu keharusan dan merupakan tugas wajib pemerintah. Salah satu caranya dengan program Manunggal TNI KB-Kes yang telah berlangsung sejak 22 tahun belakangan. ‘’Ini menjadi pembicaraan di tingkat nasional. Penting, karena menyangkut dengan keterpenuhan hak-hak dasar manusia, seperti untuk mendapatkan akses pelayanan kesehatan, pendidikan, pekerjaan dan sebagainya,’’ katanya di hadapan Plt Kepala BKKBN Riau Drs H Pengadilan Nasution dan beberapa Kabid Lainnya di BKKBN Riau.

Keberadaan lembaga yang menangani khusus program BKKBN di tingkat kabupaten/kota ke bawah katanya sangat perlu, termasuk pembentukan UPTD-UPTD di tingkat kecamatan bahkan desa. ‘’Ini perlu dilakukan seperti tahun-tahun lalu, sehingga program yang diluncurkan bnar-benr menyentuh masyarakat lapisan bawah. Kesemua itu pun berpengaruh pada penciptaan keluarga kecil,’’ kata Komandan Dinkes TNI Pekanbaru Letkol CKM dr Johanes di hadapan jajaran BKKBN, Dinkes dan aparat TNI.

Bahkan Johanes mengatakan, kondisi saat ini sangat memprihatinkan. Apalagi saat akan melaksanakan program di lapangan ada kesan beberapa Pemda tidak mampu mengelola penistribusian alat kontrasepsi, karena petugas lapangannya tidak ada lagi. Padahal dampaknya sangat besar untuk kelangsungan Negara,’’ tegasnya.

Dalam pada itu, drg Buhanuddin daeri Dinas Kesehatan Riau menyatakan, tingginya angka pertumbuhan penduduk Riau sebesar 6,1 pada tahun 2007 ini lebh diakibatkan tingginya perkembangan perekonomian daerah. ‘’Ibaratnya, di mana ada gula di situ ada semut,’’ katanya.

Namun demikian kata Buhanuddin, pihanya juga tengah juga tengah melaksanakan beberapa rogram mendasar, seperti pelaksanaa Puskesmas gratis, tidak hanya untuk masyarakat miskin, tapi semua warga Riau sudah gratis berobat di Puskesmas. Program Desa Siaga di 1.503 desa dan kelurahan yang ada, dengan menerapkan satu bidan, dua kader terlatih serta satu orang tokoh masyarakat terlatih di setiap desa. Selain itu juga dilaksanakan program jaminan kesehatan masyarakat miskin.

Sedangkan Kabid Institusi Masyarakat BKKBN Pusat, Muzakir mengakui persoalan kelembagaan di tingkat kabupaten/kota, kecamatan dan desa saat ini mengalamai penurunan drastic. Dampak semua itu, menurunnya pelaksanaa program KB di daerah yang berdampak pada peningkatan pertumbuhan penduduk, terutama dari angka kelahiran. ‘’Kondisi saat ini menjadi kecemasan secara national, terlebih lagi dengan terjadinya pembengkakan jumlah generasi muda yang akan berdampak pada tingginya kelahiran anak di masa datang,’’ tuturnya.(ril)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Monday, 15 September 2008

Kepala Daerah Harus Kendalikan Penduduk

. Monday, 15 September 2008
0 komentar

Jangan Jadi Beban Pemerintah Mendatang
Oleh Yasril

SEMUA kepala daerah, baik di tingkat kabupaten/kota mau pun provinsi harus serius dalam mengendalikan pertumbuhan penduduk. Sebab saat ini grafig piramida pertumbuhan penduduk Indonesia saat ini gemuk di tengah.


‘’Ini artinya jumlah generasi muda yang tergolong dalam kelompok usia produktif atau pun usia subur lebih besar dibandingkan dengan usia tua. Jika tidak terkendali, maka akan menimbulkan dampak pembengkakan jumlah kelahiran bayi. Ini akan jadi beban berat bagi pemerintah di masa datang,’’ kata Deputi Keluarga Berencana/Kesehatan Reproduksi (KB/KR) BKKBN Pusat, dr M Basir Palu kepada Riau Pos, Senin (15/9).

Menurut Basir, saat ini Indonesia tenah dihadapi berbagai persoalan kependudukan. Baik menyangkut akses pelayanan kesehatan maksimal, pendidikan berkualitas, ketenagakerjaan, narkoba, penyakit menular dan sebagainya. Kondisi ini katanya, tidak lepas dari masih banyaknya pejabat atau pun kepala daerah kurang memahami tentang keluarga keberencana.

‘’Bahkan ada pula yang merasa program KB itu tidak perlu tidak. Akibatnya, sejak 10 tahun terakhir, terjadi pembengkakan angka kelahiran. Ada sekitar 4,2 juta anak lahir setiap tahu di Indonesia. Ini sangat membahayakan bagi kelangsungan bangsa,’’ tegasnya.

Tingkat pertumbuhan penduduk Riau saja, papar Basir jauh di atas rata-rata nasional, meski laporan yang masuk ke pusat menyebutkan angka kelahiran anak masih 2,7. ‘’Ini terjadi karena yang dilaporkan hanya yang lahir di RSUD saja, tapi bagaimana dengan yang lahir di rumah sakit swasta, bidan beranak da sebagainya, saya yakin angkanya jauh lebih besar lagi,’’ ungkapnya.

Dipaparkannya, di sinilah letak pentinya program KB. ‘’Sebab, jika setiap tahun lahir 4,2 anak, maka tahu 2015 nanti Indonesia menjadi negara yang booming bayi. Ini akan berpengaruh pada pelayanan hak-hak dasar anak atau manusia, terutama bagi kalangan masyarakat miskin,’’ tuturnya lagi.

Menjawab Riau Pos tentang solusi pengendalian pertumbuhan penduduk, Basir menjelaskan, dengan ditetapkannya keluarga berencana sebagai tugas wajib pemerintah, maka diharapkan pula kepala daerah, baik bupati/wali kota maupun gubernur benar-benar memberdayakan lembaga ini. ‘’Badan Pemberdayaan Perempuan dan KB yang secara nasional telah dibentuk itu, harus mempunyaki kaki ke tingkat kecamatan dan kelurahan/desa. Makanya harus pula dipersiapkan UPTD-UPDT sebagai pengganti tugas PLKB di kecamatan dan desa,’’ ujarnya.(ril)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Monday, 8 September 2008

Muslim di Cina Dukung Program KB

. Monday, 8 September 2008
0 komentar

Haryono: Lembaga dakwah Berperan Kendalikan Pertumbuhan Penduduk
Oleh Yasril

Tulisan ini pernah dimuat di Riau Pos tanggal 15 februari 2007. Untuk mengembalikan perhatian kita terhadap peran dakwah, tulisan ini saya posting kembali. Semoga bermanfaat.

PENDUDUK Muslim di Negara Cina, terutama di bagian barat tidak diisyaratkan untuk mengatur kelahiran, karena mereka termasuk kaum minoritas di sana. Namun mereka tetap mendukung program KB seperti masyarakat di dataran Cina lainnya.


’’ Muslin di Cina termasuk minoritas. Mereka mendiami wilayah yang terisolasi, baik di bidang ekonomi keluarga, pendidikan, kurangnya akses kesehatan. Tapi pemerintah kami tetap menberikan dorongan untuk peningkatan sumber daya manusia di sana,’’ ungkap utusan dari Cina, Yang Zhonghua, Wu Xuexing dan Wang Lijuan saat menyampaikan kertas kerja mereka pada The International conference of muslim leaders to support population and development to achieve the millenium development goals (MDGs), di Bali, Rabu (14/2/2007).

Menurut Yang Zhonghua, pola hidup yang baik telah mengakibatkan tingkat kesuburan yang tinggi sehingga pertumbuhan penduduk meningkat.Namun lain halnya dengan kaum minoritas terutama muslim. Mereka hidup dari serba keterbatasan, tidak hanya di bidang kesehatan, sumber daya alam, dan ekonomi, tapi pemerintah juga memberikan dorongan terhadap peningkatan sumber daya manusianya. ’’Mereka ini tidak dilarang untuk membatasi tingkat kelahiran, namun oleh pemerintah juga diupayakan untuk peningkatan sumber daya manusia. Sementara bagi kaum mayoritas tetap dilaksanakan,’’ katanya.

Menurutnya konsep Islam terhadap program keluarga berencana ternyata memberi manfaat besar, tidak hanya bagi kesehatan perempuan dan anak, tapi yang lebih mendasar lagi adalah kesehatan keluarga sebagai bagian suatu bangsa yang mekan mencapai tujuabn melenium. ’’Teman-teman saya di sanaa juga mensuport kami bahwa agama Islam memberikan kemaslahatan bagi umat, untuk mengantisipasi masalah penyakit, karena penyakit bukan ajaran dari agama’’ ujarnya lagi.


Dengan konsep tersebut tuturna lagi, tokoh-tokoh muslim di sana pun telah mampu melenyapkan keraguan umat. ’’Kami telah menyampaikan baik dalam bentuk forum-forum, media melalui promosi KB dan kesehatan reproduksi termauk cara menyusui menurut Islam,’’ ungkapnya.


Dalam pada itu pemakalah dari Indobesia Prof Dr Haryono Suyono juga memaparkan peran aktif lembaga dakwah, seperti MUI, Muhammadiah, ormas Islam yang memanfaatkan masjid sebagai media penyampaian informasi perkembangan keluarga berencana ke masyarakat. Cara-cara ini ternyata mendapat aplus deri peserta seperti India, Malaysia dan Pakistan. Mereka pun kian gencar mempertanyakan cara-cara menggunakan masjid dan mushala.


Haryono pun memaparkan bahwa petugas BKKBN di Indonesia memiliki data base yang melingkupi berbagai komponen di masyarakat, baik terhadapa perekonomian masyarakat, pendidikan, kesehatan, kasus HIV/AIDS dan ini pun akan bisa disampaikan secara menyeluruh melalui masjid dalam ceramah-ceramah keagamaan, ’’Ini mendapat tanggapan positif dari kebanyakan muslim, sehingga menimbulkan kesadaran umat’’ katanya.


Dalam pada itu Kepala BKKBN Riau Marlis Alamsa di sela-sela konfrensi menyatakan konsep KB ternyata semakin jelas dan ini pun telah diterapkan di banyak negara muslim yang sebelumnya berguru ke Indonesia. ’’Kita ingin kembali menggugah para tokoh agama di daerah terutama tokoh agama muda, sehingganya nanti mampu membantu tugas pemerintah dalam pencapaian tujuan melenium, tentunya dengan menciptakan manusia-manusia berkualitas melalui ceramah yang menyejukan,’’ katanya.


Ditanya bagaimana kondisinya di Riau, Marlis menjelaskan bahwa sudah baik. Namun di Riau sendiri, pertambahan ulama dan dai-dainya kan selalu meningkat. Mungkin bagi yang senior tidak masalah lagi dan telah memahami akan arti penting keluarga berencana, tapi bagi yang muda-muda kita juga perlu memberikan pemahaman secara bertahap nantinya,’’ ujar Marlis.

Dikatakannya, khusus di Riau Perkembangan KB cukup menggairahkan. Artinya dari 800 ribu pasangan usia subur, sekitar 67 persen diantaranya sudah ber KB. Sedangkan pemahaman KB di masyarakat sudah mencapai 90 persen. ’’Artinya konsep KB yang bukan membatasi kelahiran, tapi mengatur jarak kelahiran terutama bagi kalangan ekonomi kecil dan menengah itu sudah bagus,’’ ujarnya lagi.

Terhadap masyarakat yang ber-ekonomi lemah di daerah psisir pantai, pedesaan dan daerah kumuh kami mengajak, perlu merubah tatanan kehidupan melalui program KB. ’’Artinya, dengan mendahului pengaturan jarak kelahiran akan lebih baik dibanding sudah banyak anak, ekonomi lemah, baru memperbaiki ekonomi. Ini akan bisa terlaksana bila semua komponen mendukung termasuk pemerintah daerahnya,’’ kata Marlis lagi.(ril)

Catatan: tulisan ini pernah dimuat di Riau Pos tanggal 15 februari 2007.

Klik disini untuk melanjutkan »»

YASRIL RIAU Desain ByHendrawan and Support by Ridwan CCMD. All Right Seserved

 
Namablogkamu is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com | Power by blogtemplate4u.com