SAUDARA KU DI MANA PUN BERADA, SEIRING DATANGNYA 1 RAMADHAN 1433 H, MARILAH KITA SALING MEMBERSIHKAN DIRI, KEPADA ALLAH SWT KITA BERTAUBAT SESAMA MANUSIA KITA SALING BERMAAF-MAAFAN. MARI KITA PERBAIKI HUBUNGAN SILATURAHIM SESAMA UMAT, TERUTAMA PADA ORANG TUA, SUAMI ISTRI, SESAMA SAUDARA SEDARAH SERTA DENGAN KAUM KERABAT, JIRAN TETANGGA. SEMOGA DENGAN CARA DEMIKIAN, KITA BISA MENJALANI IBADAH PUASA DENGAN TENANG DAN MENDAPATKAN PAHALA YANG SETIMPAL DI SISI aLLAH SWT. UNTUK ITU, SAYA ATAS NAMA PRIBADI DAN KELUARGA MENGUCAPKAN SELAMAT MENJALANI IBADAH PUASA, MOHON MAAF ZAHIR DAN BATIN. SAUDARA KU, SESUNGGUHNYA BERHAJI MERUPAKAN SALAH SATU RUKUN ISLAM, YANG UNTUK MENJALANKANNYA KITA HARUS MEMILIKI TRESHOLD (NILAI AMBANG BATAS), KELAYAKAN, BAIK JASMANI, ROHANI MAUPUN MATERI. MAKANYA KALAU SUDAH SIAP, SEGERAKANLAH!!

Saturday, 29 November 2008

Membangun Sendi-sendi Perekonomian Mikro

. Saturday, 29 November 2008
0 komentar

Masukan Terhadap Upaya Mengurangi Kemiskinan di Riau
MENGHAPUS keluarga miskin di negeri ini jelas tidak akan mungkin dan bisa jadi dianggap melanggar kodrat alam ciptaan Allah yang serba dua. Namun mengurangi jumlah keluarga miskin dan meningkatkan kualitas keluarga dari miskin menjadi sejahtera, itu cukup memungkinkan. Sebab, si-kaya ada karena adanya si-miskin.


Meski belum membaca visi misi Genta Melayu, saya tertarik dengan gerakan kemanusiaan dan keekonomian yang dilakukan CEO Riau Pos Grup, pak Rida K Liamsi--seorang pengusaha berhasil di negeri ini --dengan gebrakannya ‘’Gerakan Sejuta (Genta) Melayu yang terilham dengan gerakan seribu (Gebu) Minang yang dirpakarsai Azwar Annas Gubernur Sumbar ketika itu, yang juga mantan Menkokesra di era Orde Baru. (Bagi pembaca posting ini, nanti kalau ada tulisan pak Rida tentang Genta Melayu, saya janji akan mempostingnya dalam blok ini).

Gerakan yang sama sebenarnya juga pernah dilakukan Prof Haryono Suyono—Kepala BKKBN yang juga mantan Menkokesra dengan upaya membangun sendi-sendi perekonomian mikro atau masyrakat lapis bawah. Di antaranya berupa gerakan menabung—yang kalau sekarang lebih dikenal dengan istilah investasi, yakni tabungan keluarga sejahtera (Takesra), Kredit Usaha Keluarga Sejahtera (Kukesra), pendirian unit-unit usaha peningkatan pendapatan keluarga sejahtera (UPPKS ). Bahkan terakhir Haryono Suyono dengan yayasan Damandiri juga melakukan gerakan Posdaya dan sebagainya.

Sejumlah program itu hingga kini pun berjalan baik, meski di sejumlah daerah ada yang sudah tidak aktif, sebagai akibat tidak adanya motivator dari tenaga penyuluh KB. Ini juga menjadi masalah, karena di banyak kabupaten/kota hampir semua tenaga penyuluh lapangan KB sudah beralih fungsi menjadi tenaga teknis. Padahal mereka dipersiapkan sebagai tenaga fungsional yang berhubungan langsung ke tengah masyarakat.

Kondisi serupa juga terjadi pada departemen/non departemen yang juga pernah menyediakan staf atau tenaga fungsional, seperti Deppen, Depsos, Pertanian, Kehutanan dan sebagainya. Padahal para tenaga fungsional ini dipersiapkan secara matang dengan tujuan sebagai ujung tombak pemerintah di masyarakat. Mereka diharapkan mampu menyampaikan tujuan-tujuan pembangunan manusia Indonesia seutuhnya ke tengah-tengah masrayakat. Yang pada sasaran akhirnya menciptakan manusia Indonesia dan keluarga-keluarga berkualitas.

Sejak itu pulalah, terutama setelah desentralisasi pemerintahan, yang ditindaklanjuti dengan penyerahan sebagian asset pusat ke daerah, program perbaikan perekonomian keluarga atau mikro ekonomi itu tidak lagi berjalan, terutama terhadap para petani, nelayan buruh kasar, buruh harian lepas, para supir, pemulung dan lainnya yang bermukim di daerah-daerah pedesaan, dusun-dusun, pesisir pantai, daerah-daerah kumuh di perkotaan . Termasuk mereka yang bermukim di Riau, seperti puak-puak Melayu yang ada di pesisir-pesisir panta, daerah-daerah terisolir. Mereka hidup dengan kondisi serba pas-pasan.

Dapat pagi habis siang, dapat siang habis malam. Begitulah kondisi yang mereka alami setiap waktu. Sehingganya jangankan untuk melakukan investasi melalui gerakan menabung, untuk keperluan hidup sehari-hari pun susah. Belum lagi untuk biaya perawatan kesehatan, untuk biaya mendapatkan pendididikan yang lebih baik.

Persoalan yang mereka—(para keluarga miskin;baca)-- hadapi akan lebih rumit lagi, ketika ‘’kue’’ yang seharusnya ukup untuk tiga atau empat orang harus dibagi menjadi lima atau enam, bahkan tujuh orang atau lebih. Ini sebagai akibat banyaknya jumlah anggota keluarga yang ada dalam sebuah rumah tangga.

Setelah dirunut-runut, oleh pihak BKKBN, jumlah anggota keluarga yang besar dalam sebuah keluarga, terutama keluarga miskin menjadi persolan yang sangat mendasar dan harus diatasi sebelum memperbaiki perekonomian rmah tangga. Bahkan tidak salah, banyak orang atau pun pejabat mengatakan keluarga miskin dengan kemiskinannya akan melahirkan anggota keluarga atau orang-orang miskin juga. Untuk itu pengaturan jarak kelahiran di masyarakat miskin harus dilakukan agar tidak terlahir orang-orang miskin baru lainnya.

Makanya program ini perlu dilakukan secara bersamaan, sehingga di satu sisi sebuah keluarga diharapkan bisa melakukan perencanaan, baik untuk menata perekonian maupun pengaturan jarak kelahiran anak. Dan pada akhirnya bisa meningkatkan kualitas sebuah keluarga yang diukur berdasarkan skala-skala tertentu.

Pertanyaan, apakah hanya modal yang besar yang mampu mengatasi perekonomian masyarakat miskin yang mayoritas dinomina puak Melayu itu?
Tentulah tidak demikian. Modal besar sangat diperlukan, namun tidak akan ada artinya, kalau persoalan mendasar tidak teridentifikas dengan baik, Demikian juga sebaliknya, program pengentasan keluarga miskin bagus-bagus, tapi tanpa didukung modal yang cukup akan berjalan tersendat. Keduanya harus jalan seiring dan terencana secara matang.

Yang pasti dana sangat diperlukan sebagai modal untuk merubah pola hidup dan prilaku sebagian sebagian kaum ibu dari keluarga miskin yang masih berkutat di tiga ‘’ur’’ (dapur, sumur, kasur) kearah wiraswasta. Sehingga secara bertahap diharapkan akan mampu merubah sastus keluarga mereka dari pra sejahtera menjadi sejahtera 1, ke sejahtera 2, sejahtera 3 dan sejahtera 3 plus.

Nah, kalaulah itu yang nantinya diikuti, maka tidak ada salahnya tim Genta Melayu juga bisa mempelajari kiat-kiat yang diterapkan BKKBN dalam mengentaskan kemiskinan selama ini. Atau mungkin secara bergandengan melakukan gebrakan di tengah masyarakat. Karena selain BKKBN memiliki sisa-sisa tenaga yang menguasai lapangan, lembaga non departemen ini juga memiliki modal besar di bidang kemanusiaan yang dananya selian bersumber dari APBN juga bantuan-bantuan luar negeri baik dari bank dunia atau pun lembaga-lembaga swadaya (SLM) yang bergerak di bidang kemanusiaan dan tidak bersifat mengikat.

Mereka bergerak juga menggunakan uang sebagai dana paningan untuk merubah prilaku penduduk. Sebab, pendidikan merubah prilaku dan kebiasaan hidup itu tidak akan bisa seperti membalikan telapak tangan, tapi perlu waktu dan itu merupakan investasi masa panjang.

Sebut saja misalnya gerakan menabung dengan sasaran merubah prilaku penduduk dari kebiasaan bersifat konsuntif kea rah menabung. Untuk itu BKKBN pun meluncurkan sejumlah dana pancingan kepada masyarakat melaui rekening-rekening tabungan langsung atas nama anggota atau kepala keluarga miskin yang lebih dikenal dengan sebutan keluarga pra sejahtera.

Selama program ini berjalan di era Orde baru hasilnya cukup menggembirakan. Banyak masyarakat Indonesia yang menambung bahkan jumlah dananya pun meningkat dari tahun ke tahun. Untuk lebih memotifasi warga lainnya dibuat pula sejumlah tugu menabung, termasuk di Riau sendiri.

Dalam bidang kewirausahaan juga. BKKBN meluncurkan gerakan unit-unit Usaha Peningkatan pendapatan keluarga (UPPKS). Dalam kegiatan ini juga diluncurkan dana hibah dan dana bergulir sebagai pancingan penambah modal dalam berusaha. Sasarannya juga para penduduk miskin dengan berbagai usaha, seperti penjual goring, kripik cabe, tukang temple benen, pedagang asongan dan sebagainya. Mereka ini terdata lengkap dan selalu mendapat pengarahan atau pun bimbingan dari para tenaga penyuluh.

Demikian juga bagi mereka yang usahanya sudah berkembang baik diluncurka pula program kredit usaha keluarga sejahtera (Kukesra). Sasarnya juga para penduduk miskin yang telah memulai usaha perbaikan perekonomian keluarga, namun masih mengalami kekurangan dana sebagai modal.***
yasrilriau@gmail.com

Klik disini untuk melanjutkan »»

Tuesday, 25 November 2008

Ladang Minyak Duri Mulai Beroperasi

. Tuesday, 25 November 2008
0 komentar

Proyek Injeksi Uap Terbesar di Dunia

MENTERI ESDM Purnomo Yusgiantoro Rabu (26/11) hari ini- dijadwalkan akan meresmikan produksi minyak pertama dari Area 12 proyek NDD (North Duri Development atau Pengembangan Lapangan Duri Utara), PT Chevron pacific Indonesia (CPI).


Acara ini juga akan dihadiri oleh Dirjen Migas Evita Legowo, Kepala BP Migas R Priyono serta pejabat ESDM dan BPMigas lainnya.

Sebelum ke Duri, Selasa (25/11) kemarin rombongan Menteri ESDM terlebih dahulu melawat ke Pertamina Dumai, operasi PT Bumi Siak Pusako di Zamrud serta mengikuti rapat kerja di CPI Rumbai.

Demikian disampaikan Manager Comunications and Media Relations CPI, Hanafi Kadir melalui CMR CPI Tiva Permata kepada Dumai Pos (Riau Pos Grup), Selasa (25/11) kemarin.

Dijelaskan Tiva Permata, lapangan minyak Duri merupakan lokasi penerapan proyek injeksi uap terbesar di dunia. Lapangan minyak dengan luas 18 km x 8 km ini ditemukan pada tahun 1941 dan mulai beroperasi pada tahun 1958.

Sebelum penerapan teknologi injeksi uap, hasil minyak bumi dari Lapangan Duri pernah mencapai puncaknya pada tahun 1965 dengan produksi 65.000 barrel per hari. Sejak itu produksi minyak menurun terus dengan laju 13 persen per tahun. Setelah melakukan uji coba yang sukses, CPI akhirnya memutuskan untuk menggunakan teknologi injeksi uap yang diusung dari salah satu lapangan minyak Chevron di California.

Penerapannya ke seluruh lapangan Duri secara dramatis meningkatkan produksi minyak Duri, mengantarkannya ke puncak produksi sebesar 300.000 ribu barel per hari pada tahun 1994. Proyek ini membuktikan bagaimana teknologi, keunggulan operasi, dan pengelolaan sumberdaya yang tepat secara positif mengubah masa depan lapangan minyak yang sudah menurun produksinya.

Setahun kemudian, proyek DSF yang diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tahun 1990 ini mencatat produksi kumulatif 1 miliar barrel. Dua tahun lalu DSF kembali mencatat sejarah dengan produksi kumulatif 2 miliar barel minyak.

Proyek NDD yang merupakan pengembangan lanjutan dari Lapangan Duri ini diharapkan dapat memacu kembali produksi minyak Lapangan Duri seperti yang diharapkan bersama oleh Pemerintah, industri migas dan masyarakat Indonesia. PT. Chevron Pacific Indonesia (CPI) merupakan perusahaan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) BPMIGAS yang bekerja di 3 wilayah produksi di Provinsi Riau, Sumatera.

CPI dimiliki oleh perusahaan energi kelas dunia, Chevron Corporation, dan merupakan penghasil minyak terbesar di Indonesia, dengan jumlah produksi sekitar 400.000 barrel per hari. ‘’Proyek NDD yang merupakan bagian DSF ini merupakan usaha Chevron untuk menekan laju penurunan produksi dari lapangan Duri. Hal ini sangat sejalan dengan usaha pemerintah Indonesia untuk meningkatkan produksi minyaknya,’’ ujar Tiva. (usa/riau pos grup)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Guru, Sang Embun Penyejuk

.
1 komentar


Hari ini 25 November 2008 bertepatan dengan peringatan hari guru dan PGRI.
Selamat guru ku.


Semoga selalu jadi embun penyejuk dalam kehausan.
Kami, dan juga kita semua para tunas-tunas bangsa tengah haus akan ilmu pengetahuan, harus dengan didikan nilai-nilai luhur mu.
Berikanlah kami setetes embun untuk membuka hati ini
Kami tengah berada dalam kegelapan, masih gelap dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kini engkau harapan kami, engkau bagai pelita dalam kegelapan

Namun demikian, engkau para guru ku, jaga jugalah martabat mu.
Jangan karena nila setitik rusak susu se belanga.
Betapa banyaknya oknum-oknum guru saat ini yang mungkin lupa akan tugas dan fungsinya sebagai penadidik.
Jangankan mendidik, malah memberi contoh tercela bagi anak didiknya sendiri.
Ada yang berbuat cabul, ada yang main tembak, ada yang main pukul dan banyak lagi.
Sungguh tidaklah terpuji prilaku seperti ini.
Dan,.. jangan karena nila setitik, rusak susu se belanga.
Sekali lagi mari kita bersama menjaga martabat guru.
Bukankah kata Bung Karno semua kita ini juga guru.
Presiden guru bagi muridnya, penulis guru bagi pembaca karya tulisnya.
Orang tua di rumah guru bagi anak-anaknya.

Begitu juga saya yang jebolan IKIP Padang, meski berkarya di jurnalistik, tapi tetap jadi guru, bagi pembaca media. Begitu juga dengan keluarga-keluarga saya yang juga berasal dari keluarga guru, istri dan ibu mertua juga seorang guru.
Marilah kembali kita renungkan bait demi baik lirik lagu Himne Guru karya Sartono, seorang guru. Himne guru ini saya copy dari blognya Lambertus L. Hurek di Surabaya.
Sekali lagi selamat hari guru. ***

Klik disini untuk melanjutkan »»

Durian montong Diminati, Permintaan Jeruk Meningkat

.
0 komentar

Melihat Usaha Pembibitan Buah-buahan di Tambang

Laporan Yasril, Tambang
MESKI banyak petani yang beralih ke tanaman sawit, ternyata tidak sedikit yang mencari tanaman alternative yang juga memiliki prospek cerah seperti buah-buahan. Bahkan diantara puluhan jenis buah-buahan, durian montong cukup diminati, sementara permintaan pasar terhadap buah jeruk pun kian meningkat.


‘’Faktor pendukung tingginya permintaan terhadap jeruk, karena selain harga jual di pasaran meningkat, stok jeruk di petani saat ini menipis. Karena banyak petani yang beralih ke sawit. Sehingga petani pun kembali melirik tanaman sawit,’’ kata Muhammad Bibit, salah seorang petani sekaligus pengusaha pembibitan Tani Indah, Kecamatan Tambang, Kampar.

Menurutnya, di saat musim seperti sekarang, durian montong yang merupakan perpaduan durian local dan durian asal Thailand sangat diminati warga. Bahkan bibitnya pun banyak dibeli warga. Buah durian montong ini paparnya selain enak dan dagingnya tebal, jika jatuh dan lama terletak tidak cepat terbuka.

‘’Peminat bibit durian montong ini tidak hanya para petani local, tapi juga dari luar kampar, bahkan juga dari luar Riau, seperti dari Aceh, Sumut, Sumbar dan lainnya. Baru-baru inisekitar 5.000 bibit durian montong asal Tambang yang kami usahakan dibawa ke Aceh ,’’ kata M Bibit.

Tentang harga bibit durian montong, M Bibit mengatakan beragam, Ini selain tergantung usia bibit itu sendiri, juga jumlah yang dibeli. Artinya kalau membeli dalam partai besar akan lebih murah dibanding satu atau dua. Begitu juga kematangan bibitnya, yang lama dan siap tanam akan lebih tinggi dibandung yang baru disemai. ‘’tapi rata-rata bibit yang ada saat ini sudah berusia enam hingga tujuh bulan. Yang siap tanam. Sehingga pada usia lima atau enam tahun paling lambat pemilik pohon bias menikmati hailnya,’ tuturnya.

Jeruk
M Bibit juga menjelaskan bahwa selama ini buah jeruk dari Tambang menjadi primadona di Riau. Namun sejak sawit dianggap menjanjikan, banyak petani yang beralih ke tanaman sawit. Padahal pohon sawit pada dasarnya tidak bagus untuk kesuburan tanah.

Karena makin berkurangnya minat petani menanam jeruk, produksinya pun kian merosot. Ini tidak hanya terjadi di Kecamatan Tambang, Kabupaten kampar saja, tapi juga seluruh Riau, bahkan juga di provinsi tetangga. Sementara itu permintaan pasar terhadap buah jeruk tetap tinggi, baik di pasar tradisional maupun di pasar-pasa buah di kota-kota.

Untuk memenuhi permintaan pasar itu, tidak jarang jeruk harus didatangkan dari daerah lain, seperti Berastagi, Sumut dan lainnya. Akibatnya harga jual jeruk itu pun cukup menjanjikan. ‘’Makanya sekarang banyak petani kembali melirik tanaman jeruk. Dan ini bisa dilihat di beberapa wilayah di Kecamatan Tambang ini,’’ ujarnya lagi.

Harga jual bibit jeruk yang dia usahakan M Bibit menyatakan berpariasi. Namun lebih murah dibanding durian montong. ‘’Ya, berkisar antara Rp4.000 hingga Rp6.000 per batang. Kalau membeli dalam partai besar, tentu harganya juga akab lebih murah.’

Saat ini saja sedikitnya tersedia lebih 30.000 bibit dari puluhan jenis tanaman buah-buahan dan tanman keras yang ia sediaknya. Selain itu katanya juga ada yang dalam tahap karantina.***

Klik disini untuk melanjutkan »»

Monday, 24 November 2008

205 Penderita AIDS Akibat Heteroseksual

. Monday, 24 November 2008
0 komentar

SEBANYAK 44 persen dari 301 penderita HIV/AIDS di Riau tahun 2008 berasal dari berusia muda. Sementara 65 persen atau 205 kasus disebabkan heteroseksual.


‘’Kondisi ini harus menjadi perhatian semua elemen masyarakat. Tidak hanya dari kalangan generasi muda saja, tapi juga keluarga masyarakat,’’ kata Plt Kepala BKKBN Riau Drs H Pengadilan Nasution, Senin (24/11) sehubungan digelarnya lomba RAB dan Ferformance competition tahun 2008 di Mal SKA Pekanbaru.

Dipaparkan Pengadilan, usia yang paling banyak terjangkit HIV/AID itu antara 20-29 tahun, sedangkan yang berusia 30-39 berjumlah 114 orang atau 38 persen. Padahal paparnya usia 20-29 itu merupakan usia produktif manusia untuk berusaha dan berkarya. ‘’Jika mereka sudah terjebak dengan kasus HIV/AIDS masa depannya akan terganggu. Setidaknya, selain harus memikirkan keburuhan hidup, mereka juga harus intensif merawat diri,’’ paparnya.

Pengadilan juga mengimbau agar generasi muda segera meninggalkan ketergantungan terhadap narkotika serta pemakaian alat suntik secara bergantian. ‘’Ini juga bisa menyebabkan seseorang terjangkit HIV/AIDS. Bahkan 76 orang atau 25 persen penderita HIV/AIDS di Riau diakibatkan napza dan alat suntik,’’ katanya lagi.

Menjawab soal penyebab terjadinya heteroseksual atau gontaganti alat suntik, Pengadilan mengatakan masih rendahnya pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi remaja. Khususnya dalam hal hal cara-cara melindungi diri dari prilaku seksual berisiko, kehamilan tidak diingini, IMS serta HIV/AIDS.

‘’Makanya saya memberikan apresiasi positif terhadap upaya-upaya sosialisasi tentang HIV/AIDS serta keseharan reproduksi remaja dalam bentuk lomba Rab dan Ferformance competition yang dilaksanakan PKBI dan BKKBN ini. Setidaknya kita telah berupaya memproteksi generasi muda terhadap HIV/AIDS,’’ paparnya.(ril)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Di Percetakan Riau Pos

.
0 komentar



DIPERCETAKAN: Yasril saat menjelaskan pembuatan koran di ruang percetakan Riau pos.

Klik disini untuk melanjutkan »»

YASRIL RIAU Desain ByHendrawan and Support by Ridwan CCMD. All Right Seserved

 
Namablogkamu is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com | Power by blogtemplate4u.com