SAUDARA KU DI MANA PUN BERADA, SEIRING DATANGNYA 1 RAMADHAN 1433 H, MARILAH KITA SALING MEMBERSIHKAN DIRI, KEPADA ALLAH SWT KITA BERTAUBAT SESAMA MANUSIA KITA SALING BERMAAF-MAAFAN. MARI KITA PERBAIKI HUBUNGAN SILATURAHIM SESAMA UMAT, TERUTAMA PADA ORANG TUA, SUAMI ISTRI, SESAMA SAUDARA SEDARAH SERTA DENGAN KAUM KERABAT, JIRAN TETANGGA. SEMOGA DENGAN CARA DEMIKIAN, KITA BISA MENJALANI IBADAH PUASA DENGAN TENANG DAN MENDAPATKAN PAHALA YANG SETIMPAL DI SISI aLLAH SWT. UNTUK ITU, SAYA ATAS NAMA PRIBADI DAN KELUARGA MENGUCAPKAN SELAMAT MENJALANI IBADAH PUASA, MOHON MAAF ZAHIR DAN BATIN. SAUDARA KU, SESUNGGUHNYA BERHAJI MERUPAKAN SALAH SATU RUKUN ISLAM, YANG UNTUK MENJALANKANNYA KITA HARUS MEMILIKI TRESHOLD (NILAI AMBANG BATAS), KELAYAKAN, BAIK JASMANI, ROHANI MAUPUN MATERI. MAKANYA KALAU SUDAH SIAP, SEGERAKANLAH!!

Tuesday, 18 November 2008

Lima Bangunan di Kuala Enok Amblas ke Sungai

. Tuesday, 18 November 2008
0 komentar

TEMBILAHAN (RP) - Satu unit los pasar ikan, dua petak warung dan dua petak bangunan ditambah beberapa meter jalan di Kuala Enok, Kecamatan Tanah Merah, Selasa (18/11) sekitar pukul 01.30 WIB dinihari amblas ke Sungai Enok.


Tidak ada korban jiwa akibat musibah ini, karena saat itu pemilik warung sedang tidak berada di lokasi kejadian. Penyebab musibah tersebut ditengarai karena perbedaan air surut dan pasang yang sangat ekstrim beberapa saat sebelumnya. Itu ditengarai memicu bergeraknya daratan ke dasar sungai. Sebelumnya, di lokasi yang sama sudah kerap terjadi musibah serupa.

Camat Tanah Merah, Junaidi S Sos MSi kepada Riau Pos, Selasa (18/11) menjelaskan saat kejadian sedang berlangsung hujan deras. Ketika itu ketinggian permukaan air hanya 0,1 meter sedangkan pada siangnya ketinggian air pasang 4,4 meter. Perbedaan ketinggian air yang sangat menyolok itu menurutnya membuat daratan menjadi goyah, apalagi struktur tanah di wilayah itu memang labil karena berada di pesisir, berhadapan dengan Selat Berhala.

‘’ Di wilayah kejadian itu ada palung yang sangat cekung. Karena itu saat ada perbedaan tajam antara ketinggian air pasang dan surut bakal membuat wilayah tersebut anjlok. Yang longsor pada Selasa dinihari itu adalah lapis ketiga, dua lapis sebelumnya sudah anjlok beberapa tahun silam. Di lokasi ini memang bukan pemukiman masyarakat, tetapi kawasan pasar, oleh sebab itu tidak ada korban jiwa.’’ ujarnya.

Bersamaan dengan longsor itu, ikut amblas pula tanah kavlingan milik masyarakat. Luas tanah kavlingan yang amblas itu menurutnya sekitar 10 kavling. Karena merupakan kawasan ekonomi, harga satu kavling tanah itu cukup tinggi, mencapai Rp 50 juta. Selain itu, di sejumlah tanah kavling tersebut sudah ada yang mendirikan tapak bangunan yang akan dijadikan ruko.

Secara ekonomi, lokasi ini dimilliki oleh kalangan berduit. Sementara waktu, pasar ikan dipindahkan ke wilayah lain supaya aktivitas warga tidak terganggu. Pihak KecamatanTanah Merah, kata Junaidi sudah menyampaikan kejadian itu kepada Pemkab Inhil. Nantinya diharapkan ada bantuan dan langkah selanjutkan mengantisipasi supaya tidak terjadi lagi musibah serupa di lokasi ini.

Kini, satu kawasan lainnya yang berada di sekitar tower milik Telkomsel pada Sungai Perigi juga rawan dengan longsor. Penyebabnya sama, karena lokasi tersebut berada di tepian sungai yang menjadi tempat pertemuan arus Sungai Enok dan Sungai Indragiri. Palung yang ada di sekitar lokasi itu suatu waktu dapat mengancam longsor pemukiman warga dan aset milik Telkomsel tersebut.

Oleh sebab itu, pihaknya sudah meminta kepada warga yang bermukim di wilayah tersebut senantiasa berhati-hati dan waspada. Jika suatu waktu ada perbedaan sangat ekstrim antara pasang dan surut serta hujan deras, warga disarankan keluar dari lingkungan itu. Lokasi itu pun sejatinya berdekatan dengan Kantor Camat Tanah Merah.

‘’ Kota Kuala Enok kan berada di tepian Selat Berhala dan pertemuan arus sungai dengan kondisi tanah yang sangat labil. Oleh sebab itu, pada titik tertentu sangat rawan dengan bencana longsor. Setiap tahun ada saja kejadian longsor ini. Kita pun sudah mengingatkan kepada warga agar tidak lagi membangun di sekitar tepian sungai, tetapi ke daratan untuk menghindari hal itu,’’ ucap Junaidi.(yon)

Klik disini untuk melanjutkan »»

1.000 Petani Sawit Pilih Jadi Akseptor KB

.
0 komentar

FENOMENA menarik di balik anjloknya harga tandan buah segar (TBS) sawit terjadi di Kecamatan Bagansinembah, Kabupaten Rokan Hilir, Riau. Hampir 1.000 petani sawit yang tergolong pasangan usia subur (PUS) memilih menjadi akseptor KB.


Ini mereka lakukan guna mengantisipasi gejolak ekonomi keluarga akibat anjloknya harga sawit. ‘’Dalam situasi sulit seperti saat ini menjadi akseptor KB secara aktif, adalah solusi terbaik bagi masyarakat,’’ kata Kabid KB-KR BKKBN Riau, Drs H Indrawarman M Msc MM saat melaksanakan pelayanan KB Gratis di Bagansinembah, Selasa (18/11).

Menurut Indrawarman, sikap dan langkah yang ditempuh para petani sawit itu sangat tepat. Sebab, paparnya jangankan untuk beli peratan rumah tangga, pendidikan anak, alat kontrasepsi, untuk makan saja masyarakat sudah menjerit. Karena hampir 80 persen kehidupan masyarakat di Kecamatan Bagansinembah hidup dari komoditi sawit. Sementara harga sawit sendiri saat ini anjlok.

Langkah yang ditempuh hamir 1.000 PUS dari jumlah penduduk Bagansinembah yang mencapai 120.000 jiwa atau 26.000 KK itu diharapkan juga diikuti petani sawit di wilayah lain di Riau. Dengan cara itu, papar Indrawarman secara tidak langsung akan mampu membantu perekonomian keluarga.

‘’Bayangkan saja, jika anggota keluarga setiap tahun bertambah, terjadi kehamilan, persalinan. Semua perlu biaya besar. Ini perlu jadi pertimbangan dan setiap keluarga perlu membuat perencanaan,’’ katanya di hadapan Camat Bagan Sinembah yang diwakili Kasi Kessos, Darsono SE, Pimpinan Puskesmas Bagan Batu dr Yosefat, kepala desa dan para kader Posyandu.

Bagi BKKBN Propinsi Riau sendiri paparnya, pelayanan KB Gratis yang dilaksanakan ini adalah untuk lebih mendekatkan pelayanan KB kepada masyarakat, terutama bagi pasangan usia subur (PUS) baru. Karena kelembagaan KB di masing-masing kabupaten/kota sampai saat ini belum tersusun SOTK, kalaupun ada baru sebatas Perda.

Dipaparkannya, secara ilmiah penggunaan alat kontrasepsi terbukti mempunyai manfaat yang nyata bagi kesehatan ibu dan anak, kehidupan reproduksi keluarga. Dan lebih luas lagi kesejahteraan dan ketahanan keluarga. ‘’Dengan menggunakan kontrasepsi pasangan suami isteri dapat merencanakan kehamilan, terhindar dari kehamilan yang tidak diinginkan dan akhirnya mengurangi risiko kesakitan dan kematian karena hamil, persalinan dan nifas,’’ ungkap Indrawarman lagi.(ril)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Monday, 17 November 2008

Teknik Peliputan dan Wawancara

. Monday, 17 November 2008
0 komentar

Oleh Yasril
Salah seorang peserta pelatihan jurnalistik bertanya, ‘’Apakah kebebasan yang dimiliki seorang wartawan merupakan kebebasan absolut. Lantas kenapa terjadi pengusiran wartawan dan pemukulan wartawan saat peliputan berita,’’


SUATU hari saya mendatangi pejabat yang sebelumnya marah-marah akibat pemberitan tentang di media massa. Padahal tujuan saya untuk konfirmasi berita lainnya, meski dalam hati, terbersik kemungkinan Sang pejabat akan marah besar bila berjumpa saya, seperti yang dialami rekan wartawan lainnya.

‘’Tok, tok, tok,… Assalammualaikum,’’ sapa saya dari balik pintu berkaca film. Saya memperhatikan, sang pejabat tengah asyik dengan tugas rutin-- memperhatikan cacatan yang ada di mejanya.
Tak lama kemudian terdengar suara dari dalam ruangan, ‘’Ya, waalaikum sallam, masuk,’’ katanya singkat.

‘’Sebentar ya, silakan duduk, paparnya lagi sambil terus menyelesaikan tugas rutinnya. Taka lama kemudian ia pun bangkit dari tempat duduknya menuju sofa dan saya pun berdiri sambil mengulurkan tangan, sambil berucap, ‘’ Sehat, pak.’’ ‘’Ya, Alhamdulillah,’’ katanya sambil duduk.

‘’Bagaimana? Ada berita lagi,’’ katanya sambil mengarahkan ke berita sebelumnya. ‘’Saya kena marah sama pak wali. Keluarga saya malu, anak saya sudah SMA, malu sekolah. Tapi, saya terima kasih, anda memuat lengkap konfirmasi. Cuma kawan-kawan lain tu,..,’’ tuturnya lagi.

‘’Ah,… biasalah Pak. Kalau bagi kami, berita yang akan diturunkan itu harus lengkap. Ada konfirmasi. Satu lagi, kita boleh mencubit orang, tapi orang tidak merasa sakit. Kita boleh menampar muka pejabat, tapi pejabat senyum.’’ ‘’Bagaimana pula caranya,’’ Tanya pejabat bersangkutan. Suasana yang semula terlihat agak tegang pun mencair.

***

RESEP ini sebenarnya bukanlah hal yang baru bagi dunia jurnalistik. Saya sendiri mendapatnya dari Pak Dahlan Iskan, big bosnya Jawa Pos Media Grup, sekitar 15 tahun silam—Saat mengikuti penataran bagi redaktur-redaktur halaman Kota se Jawa Pos Grup di Surabaya. Bagi Pak Dahlan sendiri, ilmu tersebut tentulah ia dapatkan jauh-jauh hari, bahkan mungkin sudah ada sejak generasi sebelum-sebelumnya.

Kembali ke pertanyaan peserta pelatihan tadi, kenapa terjadi pengusiran dan mungkin juga pemukulan wartawan dengan dalih kebebasan pers dan dilindungi undang-undang.

Jawabnya singkat. Mungkin si wartawan tidak jujur dalam mencari berita. Mungkin juga terjadi miss komunikasi dan perlunya intropeksi diri.

Inilah yang sering terabaikan oleh sebagian kaum jurnlis, terutama bagi pemula. Padahal meski di negeri ini ada kebebasan pers dan itu dilindungi oleh undang-undang, tidak serta-merta bebas melakukan semaunya. Artinya masih ada etika-etika yang harus dilalui dan dilakukan oleh seorang jurnalis.

Dan di sini pulalah peran lembaga kehumasan yang dibentuk di masing-masing instansi, baik pemerintahan maupun swasta, baik elsekutif, legislative dan yudkatif. Humas diharapkan bias menjembatani antara tugas-tugas kewartawanan dengan nara sumber. Makanya humas dan wartawan diharapkan mampu sinergi dengan tugas-tugas kewartawanan yang dilakoni pers.

Salah satu praktik nyata di lapangan, yang harus dilakukan oleh seorang wartawan adalah memperkenalkan diri dan media kita kepada nara sumber yang akan diwawancarai. Mungkin bisa dimulai dengan kata-kata Assalammualaikum, selamat siang, selamat malam, salam sejahtera dan lainnya.

Ini perlu dilakukan, terlebih lagi terhadap nara sumber yang baru pertama kali kita kenal. Kita harus permisi kalau masuk ke rumah orang, jangan mentang-mentang kita memegang kebebasan, lantas semaunya. Sekali lagi jangan

Kalau perlu berjabat tangan dan menanyakan kondisi kesehatannya. Dari sana akan terlihat kemungkinan apakah seorang pejabat itu akan bisa menjawab pertanyaan yang nantinya akan kita ajukan atau tidak

Tujuannya, adalah agar dalam proses peliputan, reportase tidak mengalami kendala berarti. Tidak dianggap macam-macam. Ya mungkin mata-mata, intel, atau pun wartawan gadungan. Setidaknya kita telah membuka hubungan dengan nara sumber dengan arif dan bijak.

Langkah selanjutnya barulah masuk pada inti persoalan yang kita maksud. Di sini pun sebaiknya tidak langsung pada pertanyaan yang menghujam atau menikam nara sumber. Tapi mulailah dengan hal-hal yang sederhana, dan secara perlahan barulah masuk pada pokok persoalannya.

Untuk memulai itu semua tentulah seorang wartawan harus menguasai persoalan yang akan ditanyai atau diliputnya itu. Ini akan didapat kalau wartawan seing membaca, mendengar dan melihat. Membaca berita orang lain, membaca berita kita sendiri, buku-buku atau majalah dan sebagainya. Sebab jika tidak, selain akan akan terputusnya komunikasi dua arah, si wartawan akan melongo dengan ketidaktahuannya terhadap persoalan.

Bahkan bukan tidak mungkin akan timbul persepsi dari nara sumber, ‘’wartawan apa ini?’’. Sementara di benak banyak nara sumber, wartawan dianggap orang yang serba tahu, karena sesuai tugasnya mencari tahu terhadap sesuatu dan akan diinformasikan pada orang lain.

Selanjutnya, karena dalam penulisan berita atau laporan, seorang wartawan tidak akan terlepas dari konsep dasar penulisan yakni unsure 5 W + 1H (what--apa, who--siapa, why--mengapa, when--kapan, where—di mana, how—bagaimana), sebaiknya memulai pertanyaan dengan kata-kata tersebut. Sehingga wartawan pun akan terbantu dalam penulisan berita atau laporan.

Bagi para pemula, kalau perlu sebelum mewawancarai, dibuatkan dulu kisi-kisi pertanyaan, sehingga runut. Selain perlunya buku catatan atau alat tulis, kalau dapat juga tersedia rekaman, sehingga bisa meminimalisir kemungkinan yang terlupa atau tertinggal. Atau untuk membedakan mana-mana yang off the record, saat penulisan .

Lain halnya bagi seorang wartawan yang bepengalaman dan menguasai masalah. Terkadang, di lapangan kita melihat adanya seorang wartawan yang terkesan tidak mempergunakan alat tulis atau rekaman pada sat wawancara. Tapi proses wwancara tetap berlangsung dan hanya mengandalkan daya ingat dan penguasaan masalah. Alata tulis dan rekaman terkadang hanya dimanfaatkan untuk hal-hal yang urgen. Seperti untuk merekan statemen-statemen yang khusus. Atau mencatat identitas nara sumber dan sebagainya.

Pengajuan pertanaan oleh wartawan yang berpengalaman sekali pun, tetap saja mengacu pada unsure-unsur pemberitan yang memuat unsure 5 W + 1 H itu. Bedanya, mungkin pada penggunan kata-kata Tanya. Mereka umumnya lebih pada sifat menggali dengan banyak menggunakan kata-kata, why dan how (mengapa, bagaimana).

Sebab, pertanyaan yang dimulai dengan kata-kata mengapa dan bagaimana itu, umumnya akan menghasilkan jawaban panjang dan uraian. Beda halnya dengan kata-kata ; dimana? Jawabnya hanya satu (si sini atau di sana), siapa? Jawabnya hanya satu (si Polan, si Badu atau lainnya), Kapan? (kemarin, tadi dan sebagainya), atau pertanyaan yang dimulai dengan kata apakah? (jawabnya juga singkat ya atau tidak.)

Kalau seorang wartawan memulai pertanyaan dengan kata-kata mengapa dan bagaimana?, maka selain kemungkinan mendapatkan jawaban lebih panjang dan lengkap, juga akan bisa menimbulkan pertanyaan galian lainnya. Bahkan bukan tidak mungkin dari pertanyaan-pertanyaan itu akan didapat data-data dan fakta baru yang menarik untuk diberitakan.

Satu hal lagi, jangan puas hanya dengan satu nara sumber. Lakukan check dan recheck dan kalau bisa peroleh data-data pelengkap lainnya.

Terkait pencantuman identitas nara sumber, seorang wartawan perlu mengetahui secara lengkap, kalau perlu dengan titel dan kepangkatan atau gelarnya. Dan jangan malu untuk meminta agar nara sumber menulis sendiri identitasnya. Agar dalam penulisan nantinya tidak salah.

***

Jika ini telah dilakukan dan mendapatkan materi berita yang cukup memuaskan, barulah masuk pada penulisan berita yang dimaksud.

Khusus masalah penulisan berita, yang terpenting diperhatikan adalah penggunaan kata-kata, tata bahasa, kalimat dan sebagainya. Karena pembaca berita yang anda buat itu berasal dari berbagai ragam etnis, suku, agama, ras dan sebagainya. Jangan sampai ada yang menyinggung ranah SARA. Berita harus seimbang, dan tidak memihak.

Selamat Mencoba wawancara.***

Klik disini untuk melanjutkan »»

Friday, 14 November 2008

Memformat Ulang Pola Pikir Kaum Reformis

. Friday, 14 November 2008
0 komentar

Salahkah Kita Memuji Keberhasilan Soeharto
* Soekarno: Ingat, Semua Kita Guru

PRO dan kontra yang dilontarkan sejumlah politisi dan sejarawan terhadap gelar yang disandang mantan Presiden RI Jenderal Besar Purnawirawan HM Soeharto sebenarnya mekin memperlihatkan ke dunia luar bahwa ternyata bangsa ini belum dewasa dan belum mampu menghargai seseorang. Haruskah ini selalu ditularkan ke anak cucu kita?


Sikap pro kontra soal Soeharto menarik dibicarakan. Sebab, selain sosok Soeharto sebagai penguasa Orde Baru yang mampu bertahan lebih tiga dasa warsa di kusri kepemimpinan, Presiden kedua RI ini juga telah mampu membawa arah negeri ini di berbagai bidang dan aspek kehidupan. Baik dalam skala nasional maupun internasional.

Namun demikian, sebagai pribadi, Soeharto juga seorang manusia yang tak luput dari kesalahan dan kekhilafan. Sama halnya dengan sejumlah politisi ataupun calon politisi serta sejarawan, guru, polisi, presiden setelah Soharto, seperti BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Sosilo Bambang Yudhoyono (SBY), calon presiden, dan juga saya sendiri.

Sebagai makhluk Allah yang hidup di dunia fana ini, kita semua tidak ada yang benar dan tidak dibenarkan mengakui bahwa kitalah yang benar. Karena kebenaran dan kesempurnaan itu hanyalah milik Allah, Sang Penguasa.

Lantas salahkan PKS memasang foto Soeharto di hari pahlawan 2008? Tentunya tidaklah. Sebab, selain merupakan hak dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), tentulah mereka memiliki landasan-landasan mendasar kenapa memakainya.

Haruskah kita marah PKS memasang gambar Soeharto pada hari Pahlawan 2008. Tentunya tidak dan tidak perlu ada yang merasa tersinggung, merasa marah dan merasa benci. Bukankah dalam nilai-nilai kegamaan—agama manapun kita tidak dianjurkan untuk membenci seseorang.

Sebab belum tentu orang yang kita benci itu lebih jelek dari orang yang membenci. Dan belum tentu pula orang yang membenci itu lebih baik dari pada orang yang dibenci. Allah saja yang penguasa alam semesta—langit dan bumi mau mengampuni umatnya, kenapa kita sesama manusia tidak mau saling memaafkan. Sungguh suatu hal yang sangat disayangkan. Nauzubillah.

Orang bijak pernah mengatakan, suatu negeri tidak akan jadi besar kalau hanya dipupuk dengan kebencian dan kebencian. Bukankah pula mantan Presiden pertama RI Ir H Soekarno pernah mengatakan, ‘’Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai jasa-jasa pahlawannya.’’

Konsep pahlawan di sini paun harus pula diartikan secara luas, bukan sekadar orang yang berjuang di medan tempur saja, tapi juga orang yang mengisi pembangunan. Soeharto sendiri selain sebagai pejuang juga mengisi kemerdekaan. Banyak sudah yang ia perbuat untuk kemajuan bangsa ini, meski ada kesalahan-kesalahan yang dilakukan.

Lantas salahkah kita mengatakan bahwa Soeharto guru bangsa? Tentulah tidak, bukankah Soekarno mengatakan semua kita ini pada dasarnya guru. ‘’Bapak dan ibu guru oleh anaknya, tokoh masyarakat guru bagi masyarakat, pemimpin guru bagi yang dipimpinnya. Presiden, raja juga guru bagi rakyatnya.’’

Demikian juga langkah yang diperbuat PKS, adalah guru bagi kontestannya dan juga masyarakat banyak. Mungkin dengan maksud mengajak rakyat berpikir realistis, bisa membandingkan kesalahan dan kebaikan, mengajak untuk warga menghargai pemimpin dan mantan pemimpinnya.

Kalaulah misalnya seorang Budiman Sudjatmiko (caleg PDIP), Ketua DPP Partai Matahari Bangsa (PMB) Yusuf dan politisi asal PKB Marwan Dja’far dalam dialektika demokrasi yang digelar di Press Room DPR/MPR RI, Jakarta, Jumat (14/11), menganggap PKS sebagai pengkhianat reformasi hanya karena menyebut Soeharto sebagai guru bangsa.

Atau anggapan dari Yusuf, bahwa iklan yang ditampilkan PKS tidak lebih dari upaya pembohongan dan pembodohan publik. ‘’Sesuai dengan iklan itu sendiri yang sebenarnya merupakan upaya pembohongan publik,’’ tegasnya.

Begitu juga Marwan menyebut PKS sebagai partai yang eksklusif dan secara mazhab tidak jelas. Sehingga, Fachri dari FPKS pun meluruskan bahwa apa yang dilakukan PKS tidak lebih dari semangat rekonsiliasi.

Menurut dia, tidak ada gunanya masyarakat Indonesia masih saling salah-menyalahkan. Lebih baik semua berpikir ke depan bagaimana membangun Indonesia yang lebih baik tanpa dibayang-bayangi rasa dendam. ‘’Lagi pula di balik kesalahan Pak Harto, beliau juga punya banyak sekali jasa terhadap bangsa ini,’’ ungkapnya.

Bahkan menurut saya bukan tidak mungkin, yang diperbuat PKS itu adalah hal yang benar, dengan cara mereformasi (menformat ulang) cara berpikir selama ini untuk kembali memiliah-milah antara kesalahan dan kebenaran. Mengajak bangsa ini berpikir secara logis dan realistis.

Sebab, meski pun seorang Budiman Sudjatmiko menilai banyak kesalahan Soeharto selama 32 tahun menjabat sebagai Presiden, namun tidak sedikit pula keberhasilannya. Baik di tingkat nasional maupun internasional.

Salah satu hal yang kecil saja misalnya, kita semua bisa bersekola, belajar bahkan mendapatkan gelar sarjana juga karena adanya andil atau keberhasilan Soeharto. Haruskah kita menutup mata tentang hal itu? (ril)***

Klik disini untuk melanjutkan »»

Tuesday, 11 November 2008

Ketika Banyak ''Pagar'' yang Makan Tanaman

. Tuesday, 11 November 2008
0 komentar

Kasus Pencabulan pun Merajalela
KIAMAT! Demikian ungkapan kekesalan banyak orang yang mendengar, melihat, membaca dan menonton tentang berita pencabulan, pemerkosaan dan kegiatan maksiat sejenisnya. Betapa tidak, hampir tiap hari media massa, baik cetak maupun elektronika menginformasikan adanya aksi pencabulan, pemerkosaan di seantero negeri ini.


Kasus pencabulan itu tidak saja dilakukan oleh ‘’Apak Rutiang’’ yang mengambil istilah tingkah laku ikan ruting atau gabus yang memakan anaknya sendiri, tapi aksi banal ini pun banyak dilakukan orang-orang yang seharusnya dijadikan sebagai panutan, pelindung bahkan juga pendidik. Bahkan berita yang lagi hot-nya di negeri ini adalah Guru cabuli Murid, Polisi Cabuli Mahsiswa.
Pertanyaannya, kalau dulu ada istilah guru kencing berdiri, murid kencing berlari, lantas kalau guru cabuli murid, murid cabuli siapa???
Berita yang juga nengebohkan beberapa waktu lalu adalah anak cabuli ibu kandung, ya.. mungkin seperti legenda Sangkuriang lah. Nauzubillah.

Mungkinkah ini pertanda kiamat kecil yang diperlihatkan Allah SWT agar menjadi pelajaran bagi umat-umat lainnya. Bukankah Allah SWT dalam Alquran juga sering mengingatkan manusia dengan sebutan ‘’Apakah anda tidak berpikir?’’

Seharusnya kejadian-kejadian kasus pencabulan, baik yang dilakukan ayah pada anaknya, anak pada ibunya, abang pada adiknya kandungnya, guru pada muridnya dan juga polisi kepada masyarakat bisa dijadikan pembelajaran, agar yang lainnya mengindarinya dan meningkatkan ketaqwaan pada-Nya.

Kalaulah disimak satu persatu atau kasus per kasus, kejadian itu tidak hanya terjadi di wilayah perkotaan yang sarat dengan sikap individualisme, mulai kurangnya pemahaman terhadap nilai-nilai agama, tapi juga terjadi di wilayah pedesaan. Seperti yang terjadi di sejumlah desa di beberapa kabupaten/kota di Riau.

Lantas semua itu salah siapa?
Jawabnya, cukup banyak. Tentulah banyak. Diantaranya mulai menipisnya seraapan nilai-nilai agama dan budaya yang oleh tetua-tetua negeri ini dulu disebut adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah. Kurangnya penerapan nilai-nilai luruh di dalam keluarga sebagai akibat tekanan ekonomi. Sehingga kepala keluarga kurang mengontrol perkembangan anak atau anggota keluarga.

Faktor lainnya, kurangnya fungsi guru sebagai pendidik. Guru baik guru sekolah umum, sekolah agama lebih banyak berfungsi mentransper ilmu koqnitif kepada anak disbanding upaya mendidik. Konsep mendidik sudah banyak disalahtafsirkan. Bahkan tidak itu saja, terkadang guru pun tidak jarang yang melakukan kesalahan fatal, seperti mencabuli murid atau anak didik mereka. Nauzubillah.

Penyebab lain yang tak kalah pentingnya adalah factor kebebasan kemajuan teknologi yang juga sering disalah artikan oleh sebagian kalangan. Sehingga kebebasan yang dilakukan adalah kebebasan absolut tanpa batas. Ini jelas akan berpengaruh pada peningkatan jumlah dekadensi moral di negeri ini.

Lantas, apakah semua itu tidak bisa diatasi.
Jawabnya, tentulah bisa, asal ada kemauan bersama baik dari keluarga, masyarakat dan pemerintah, termasuk dari penegak hokum sendiri. Namun kunci utama untuk mengantisiapsi semua itu berada di level terendah yang bernama keluarga. Yakni dengan langkah menciptakan keluarga sakinah, mawadah warahmah, yang kesemua itu bisa terlaksana bila semua pasangan, terutama pasangan usia subur (PUS) di negeri ini selalu melakukan perencanaan dalam keluarga atau dengan istilah lain Keluarga Berencana.

Sebab Keluarga Berencana dalam arti luas bukalah hanya bicara soal alat kontrasepsi (Alkon) semata, tapi juga bicara tentang upaya-upaya menciptakan keluarga yang berkualitas. Baik dalam bidang agama, pendidikan, kesehatan, ekonomi dan sebagainya.
Terakhir, makanya ikuti program keluarga berencana.***

Klik disini untuk melanjutkan »»

Monday, 10 November 2008

Sejumlah Aset Vital di Riau Dikawal

. Monday, 10 November 2008
0 komentar

MESKI trio boomber (Amrozi, Imam samudra dan Mucklas0 telah dieksekusi mati Sabtu dini hari (8/11), pemerintah dan aparat kemanan tetap meningkatkan kewaspadaan. Buktinya, sejak hari itu pula pengawasan terhadap aset-aset vital ditingkatkan, termasuk di Riau sendiri.


Aset vital yang dijaga itu antara lain aset-aset milik negara, swasta, pusat-pusat keramaian, pusat perbelanjaan, rumah ibadah serta aset perusahaan milik asing (PMA), termasuk lokasi chevron yang ada di beberapa wilayah di Riau.

Pengawasan itu sendiri dilakukan aparat kemanan, baik yang berpakaian dinas maupun sipil. Selain ada yang diposkan di tempat-tempat tertentu, juga banyak yang melakukan patroli. Bahkan di lokasi cevron—merupakan PMA asal Amerika yang tersebar di beberapa kabupaten kota di Riau ditempatkan sedikitnya 100 personil

Menurut Kapolda Riau Brigjen Pol Hadiatmoko kepada wartawan, Senin (10/9), semua ini dilakukan sebagai langkah-langkah antisipasi terhadap pengamanan wilayah. ‘’Kita ingin negeri ini, daerah ini aman. Sebab kunci dari kemajuan suatu wilayah adalah kemanan. Makanya perlu juga partisipasi masyarakat bersama aparat kepolisian menjaga keamanan, sehingga masyarakat pun tenang berusaha,’’ harapnya.

Ia juga mengatakan langkah-langkah pengamanan itu bukan saja karena pelaksanaan eksekusi mati trio boomber, tapi juga dalam rangka menghadapi iven-iven atau hari-hari besar, termasuk menghadapi lebaran, natal dan tahun baru. Persiapan terhadap pengamanan itu selalu dilakukan dan itu berlaku tetap,’’ katanya lagi.***

Klik disini untuk melanjutkan »»

YASRIL RIAU Desain ByHendrawan and Support by Ridwan CCMD. All Right Seserved

 
Namablogkamu is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com | Power by blogtemplate4u.com